Lengkap! 3 Skenario Defiist APBN Pemerintah di Tengah Gejolak Dunia

2 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto tentang skenario defisit APBN yang sulit dijaga di angka 3%.

Hal ini dipicu kondisi ketidakpastian geopolitik dunia, khususnya konflik di Timur Tengah yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia dan terganggunya pasokan minyak di pasar.

Airlangga menyebut, dari berbagai skenario yang telah disimulasikan, seluruhnya mengarahkan bahwa defisit APBN bisa tembus di batas masksimal dalam Undang-Undang Keuangan Negara, yakni 3% dari produk domestik bruto (PDB).

Skenario yang ia ambil untuk menghitung risiko ini ialah dengan membagi efek konflik di Timur Tengah itu berlangsung selama enam bulan hingga 10 bulan, dengan harga rata-rata minyak mentah dunia naik menjadi US$ 97 per barel dan US$ 115 per barel.

Airlangga menjabarkan beberapa skenario bila terjadi perubahan asumsi harga minyak hingga nilai tukar (kurs). Tiga skenario itu antara lain:

1. Harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$ 86/barel, kurs Rp 17.000 per US$, sementara di APBN asumsi kursnya Rp 16.500 per US$, kemudian dengan growth dipertahankan di 5,3%, surat berharga negara angkanya lebih tinggi 6,8%, maka defisit APBN diperkirakan mencapai 3,18%.

2. Skenario moderat kedua dengan harga ICP US$ 97 per barel, kurs Rp 17.300, growth 5,2%, SBN lebih tinggi lagi di 7,2%, maka defisit mencapai 3,53%.

3. Skenario terburuk pesimis, dengan harga ICP US$ 115 per barel, kurs Rp 17.500, growth 5,2% SBN 7,2% defisitnya 4,06%.

"Artinya dengan berbagai skenario ini defisit 3% itu sulit kita pertahankan, kecuali memotong belanja, dan memotong pertumbuhan pak," kata Airlangga dalam Rapat Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Dikutip Sabtu (14/3/2026).

Maka dari itu, Airlangga mengusulkan opsi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) terkait Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 untuk merespon kondisi global dan skenario defisti APBN yang telah diproyeksikan.

Ia mengatakan bahwa Perppu ini untuk memfasilitasi perubahan asumsi dalam APBN 2026 akibat gejolak geopolitik dunia. Defisit APBN pada 2026 diperkirakan akan melebar akibat perubahan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP), nilai tukar (kurs), hingga pertumbuhan ekonomi.

"Kita melakukan Perppu saat Covid, ini beberapa faktor yang perlu masuk di dalam Perppu yang dipersiapkan, mengenai timing tentu keputusan politik Pak Presiden, tapi ini isi Perppu yang pernah kita siapkan saat Covid, kita sesuaikan, yang berbeda, yaitu penerimaan negara, ada insentif darurat PPh dan PPN di sektor terdampak tanpa mengubah UU Pajak," tutur Airlangga.

"Bea masuk impor ada pembebasan bahan baku tertentu agar ekspor kita jalan, kemudian penundaan pajak bagi UMKM, dan industri padat energi, kemudian kita ada potensi mendapatkan windfall dari PNBP migas dan komoditas ini bisa kita hitung untuk kompensasi, biasanya harga CPO naik dengan harga BBM, nikel emas tembaga naik kita bisa dalam tanda petik mengenakan pajak tambahan, penganggaran dan biaya defisit, defisit bisa lebih dari 3%, anggaran lintas program ini kita bisa ubah tanpa DPR dengan Perppu ini pemerintah punya fleksibilitas untuk perubahan," paparnya.

"BLT energi dilanjutkan dan sosial darurat ditambahkan dengan Perpres, dan penerbitan SBN berjalan dan menggunakan SAL," ujarnya.

Seperti diketahui, harga minyak mentah dunia melambung tinggi. Saat harga minyak melambung, dunia menjadi was-was akan potensi inflasi semakin panas, yang seringkali menciptakan perlambatan ekonomi hingga penurunan daya beli masyarakat.

Berdasarkan data Refinitiv pada perdagangan Jumat (13/3/2026) harga minyak acuan Brent tercatat di US$103,14 per barel atau menguat 2,67% dari perdagangan hari sebelumnya. Sementara harga minyak mentah acuan Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) tercatat US$98,71 per barel atau menguat 3,11%. Sementara secara mingguan kinerja acuan harga minyak mentah Brent dan WTI masing-masing melonjak 11,27% dan 8,59%.

Kenaikan harga minyak mentah dipicu oleh pemangkasan produksi oleh sejumlah produsen besar di Timur Tengah, di tengah masih tertutupnya Selat Hormuz-jalur vital pengiriman energi dunia.

Harga minyak mentah dunia yang melambung tinggi tersebut turut memengaruhi harga minyak mentah acuan Indonesia, Indonesia Crude Price (ICP) yang juga menjadi acuan APBN.

(ras)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |