Maaf AS, Dunia Lebih Percaya Pernyataan Iran Dibanding Donald Trump

3 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuat gebrakan Selasa malam. Ia menyebut perang dengan Iran akan berakhir dua atau tiga minggu lagi.

Mengutip AFP, ia menyebut AS akan "meninggalkan" Iran dalam "dua hingga tiga minggu" ketika sudah yakin rezim saat ini tidak dapat membangun senjata nuklir "yang sudah dirancang selama bertahun-tahun". Komentar terbaru Trump disampaikan di Ruang Oval menjelang pidato nasional tentang Iran yang dijadwalkan Rabu (1/4/2026) malam waktu Washington atau Kamis (2/4/2026) pagi waktu RI.

Walau begitu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam sebuah kesempatan mengatakan negaranya memiliki "kemauan yang diperlukan" untuk mengakhiri perang dengan AS dan Israel. Namun ini bisa terjadi asalkan "musuh-musuhnya menjamin perang tidak akan berkobar lagi".

Lalu apakah pernyataan Trump bisa dipercaya? Atau justru Iran?

Dalam opininya yang dimuat di The Guardian, penulis buku "Lincoln on the Verge: Thirteen Days to Washington" dan juga penulis pidato di Gedung Putih era Bill Clinton, Ted Widmer, mengatakan bahwa Trump kurang berhasil dalam membangun dukungan untuk perang melawan Iran, baik di dalam maupun luar negeri. Alih-alih menyatukan dunia bebas, ia justru memecah belah dengan serangkaian ejekan dan ancaman, terutama ditujukan kepada sekutu.

"Ini adalah cara yang aneh untuk melancarkan perang, yang menjelaskan mengapa kemenangan masih terasa begitu jauh, setelah sebulan berlalu," ujarnya.

Menurutnya kata-kata seorang presiden sangat penting. Secara tradisional, presiden akan membangun alasan untuk perang dalam pidato yang serius, yang disampaikan dari Meja Resolute di Kantor Oval Gedung Putih.

Tetapi ungkapnya, hal ini beda dengan Trump. Pernyataan Trump lebih cenderung datang dari kediamannya Mar-a-Lago, Florida, sambil mengenakan topi baseball.

Belum lagi pernyataan Trump yang kerap menambah kekacauan. Sinyal yang diberikan kerap berubah-ubah.

"Sejak saat itu, setiap intervensi telah menambah kekacauan, dengan pernyataan yang berubah-ubah yang secara rutin saling bertentangan atau hanya menyangkal kenyataan," tambahnya.

"Perang akan segera berakhir... atau mungkin akan berlangsung lama. Kita tidak takut untuk mengirim pasukan darat... tetapi sekali lagi, mungkin juga tidak. Ancaman dari Iran segera... tetapi mungkin butuh 10 tahun untuk berkembang, seperti yang disarankan oleh intelijen AS," ujarnya menirukan pernyataan Trump.

"Dengan pesan yang tidak konsisten yang jelas menunjukkan kurangnya strategi."

Pidato Trump juga memperdalam "jurang". Kadang-kadang, kata dia, Trump mengeluarkan dekrit keras yang terdengar samar-samar mengingatkan pada Perang Dunia Kedua (PD II), menuntut "penyerahan tanpa syarat" yang jelas-jelas tidak ditawarkan Iran.

"Kemudian, ketika itu tidak berhasil, dia langsung menyatakan bahwa perang telah dimenangkan. Benarkah?" jelasnya lagi,

"Ketidakkonsistenan rencana Trump telah melukai prestise Amerika, terutama di dalam negeri," ujarnya menyebut menurunnya kepercayaannya domestik.

Sementara itu, mantan direktur CIA John Brennan mengatakan kepada MS NOW bahwa ia lebih percaya Iran daripada Trump. Bahkan ia menyebut Trump sebagai pemimpin yang suka memutarbalikkan fakta.

Ia mencontohkan, saat konflik terus berkecamuk di seluruh wilayah Teluk, Trump mengklaim bahwa para diplomat AS dan pejabat pemerintah Iran sedang melakukan diskusi yang "produktif" tentang bagaimana mengakhiri konflik tersebut. Namun Iran mengatakan bahwa "tidak ada dialog" yang terjadi antara Washington dan Teheran, menyebut cerita Trump sebagai taktik untuk menenangkan pasar saham yang bergejolak dan meredam kenaikan harga minyak.

Mengutip Yahoo News, Trump ujar Brennan memiliki kecenderungan melebih-lebihkan. Jelas, tegasnya, bahwa Trump sedang kebingungan saat ini.

"Dia mencoba mencari cara untuk keluar dari kekacauan yang telah dia ciptakan," katanya.

"Jadi dia akan membuat klaim tentang negosiasi bahwa Iran sekarang mengirimkan sinyal bahwa mereka benar-benar ingin membuat kesepakatan dan mengindikasikan bahwa mereka akan membuat kesepakatan dengan syarat-syarat kita. Saya rasa pernyataan itu sama sekali tidak benar," tambahnya.

Israel?

Sementara itu, Perdana Menteri (PM) Israel pada hari Selasa menegaskan bahwa kampanye militer akan terus berlanjut. Bahkan ia menyebut akan menghancurkannya sampai habis.

"Kami akan terus menghancurkan rezim teror," kata Netanyahu pada malam sebelum liburan Paskah Yahudi, menambahkan bahwa rezim tersebut telah "mengubah wajah Timur Tengah".

(sef/sef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |