Mega Skandal Rp 25 Triliun Terbongkar ke Publik, Begini Modusnya

6 hours ago 8

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Amerika Serikat membongkar dugaan mega skandal penipuan yang melibatkan perusahaan AI iLearning Engines, sebuah perusahaan teknologi baru yang dengan cepat mencapai kapitalisasi pasar US$ 1,5 miliar (sekitar Rp 25 triliun).

Departemen Kehakiman AS (Department of Justice/DoJ) menuduh perusahaan tersebut memalsukan hampir seluruh hubungan pelanggan dan pendapatannya selama bertahun-tahun demi menarik dana investor di tengah euforia AI global.

Dalam dakwaan resmi, pendiri sekaligus CEO iLearning Engines Puthugramam "Harish" Chidambaran dan CFO Sayyed Farhan Ali "Farhan" Naqvi disebut sebagai aktor utama dalam skema kejahatan finansial berkelanjutan. Keduanya dijerat berbagai tuduhan, termasuk penipuan sekuritas dan wire fraud.

Otoritas AS menilai kedua eksekutif tersebut menunggangi hype AI untuk menciptakan citra perusahaan sebagai startup AI dengan pertumbuhan pesat. Padahal, sebagian besar pelanggan yang diklaim perusahaan serta pendapatan yang dilaporkan diduga merupakan rekayasa.

Dalam pernyataannya, DoJ menyebut para terdakwa memanfaatkan antusiasme investor terhadap AI dengan menyajikan proyeksi keuangan yang terlihat menjanjikan, namun dibangun di atas data yang tidak nyata. Bahkan, pelanggan dan pendapatan perusahaan disebut sebagai bagian paling "artifisial" dari narasi bisnis iLearning.

Mengutip Futurism, skala dugaan penipuan ini tergolong besar. Pada 2023, perusahaan melaporkan pendapatan mencapai US$421 juta dari lisensi AI kepada pelanggan korporasi.

Namun otoritas setempat menemukan angka tersebut berasal dari jaringan kontrak fiktif dengan pelanggan yang tidak benar-benar ada, sebagian bernilai puluhan juta dolar per tahun.

Kedua eksekutif tersebut juga diduga meraup keuntungan besar dari skema ini. Chidambaran disebut menerima lebih dari US$500 juta dalam saham, ditambah gaji sekitar US$700.000 pada 2023-2024 serta unit saham terbatas senilai US$12,5 juta.

Chidambaran telah ditangkap di Maryland, sementara Naqvi diamankan di California. Kasus ini menjadi salah satu dugaan penipuan terbesar yang memanfaatkan tren AI dalam beberapa tahun terakhir.

Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya kejahatan berbasis AI. Laporan terbaru FBI mencatat lebih dari 22.000 pengaduan terkait penipuan AI sepanjang 2025 dengan total kerugian mencapai US$900 juta, atau naik sekitar 33% dibandingkan tahun sebelumnya.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |