Meninjau Ulang Perang Bawah Laut: Pelajaran dari Pengalaman Iran

4 hours ago 6

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Perang tidak pernah menunggu para analis. Konflik di Teluk Persia masih terus berlangsung, dan hingga kini belum dapat dipastikan apakah Selat Hormuz akan tetap terbuka dalam beberapa minggu ke depan.

Meski begitu, dinamika yang berkembang sudah mulai memberikan sejumlah pelajaran penting tentang peperangan laut. Salah satunya berkaitan dengan perang bawah laut, khususnya peperangan kapal selam, yang menjadi semakin relevan bagi negara seperti Indonesia yang sedang memordenisasi kekuatan militernya.

Iran merupakan salah satu operator utama kapal selam di kawasan tersebut pada awal konflik, sekaligus salah satu pengguna midget submarine terbesar di dunia, dengan sekitar 15 hingga 20 unit kelas Ghadir yang masih aktif.

Platform ini menjadi bagian dari doktrin anti-access/area denial (A2/AD) Iran dan dirancang untuk mendukung strategi Teheran dalam membatasi akses ke Teluk Persia dan Selat Hormuz. Namun dalam praktiknya, kinerja operasionalnya tidak sesuai harapan.

Tidak ada intersepsi atau penolakan akses yang terkonfirmasi, serta tidak ada kapal-baik sipil maupun militer-yang berhasil dirusak oleh midget submarine tersebut. Sebaliknya, laporan media justru menunjukkan bahwa beberapa, bahkan mungkin seluruh, unit kelas Ghadir mengalami kerusakan atau tenggelam sejak awal permusuhan.

Menariknya, efektivitas Iran justru tidak datang dari midget submarine, melainkan penggunaan Unmanned Underwater Vehicles (UUV), Unmanned Surface Vehicles (USV), IED maritim, ranjau laut, hingga kapal cepat. Sebagai contoh, ketika Iran mulai menargetkan kapal sipil dan tanker, yang digunakan adalah UUV, bukan midget submarine.

Di sisi lain, daya hancur kapal selam konvensional justru terlihat jelas ketika USS Charlotte-kapal selam kelas Los Angeles-menenggelamkan fregat kelas Moudge IRIS Dena dengan dua torpedo Mk.48 di lepas pantai Sri Lanka. Pengalaman ini kemudian memunculkan pertanyaan penting: sebenarnya, untuk apa midget submarine digunakan?

Pada praktiknya, fungsi utama midget submarine justru berada dalam domain operasi khusus. Di sinilah platform ini memberikan nilai tambah yang signifikan, meskipun sifatnya terbatas dan sangat spesifik.

Midget submarine dapat digunakan untuk infiltrasi dan ekstraksi penyelam tempur, pengumpulan intelijen dalam jangka waktu singkat, serta peletakan ranjau di wilayah pesisir yang sempit. Hal ini sejalan dengan bagaimana negara-negara seperti Qatar, Turki, dan Italia memanfaatkan platform tersebut.

Di saat yang sama, banyak angkatan laut lebih memilih untuk mengembangkan Swimmer Delivery Vehicles (SDV) yang dapat dipasang pada kapal selam, karena menawarkan keunggulan seperti jangkauan yang lebih panjang serta kemampuan dukungan tembakan dari kapal selam induk jika diperlukan.

Oleh karena itu, midget submarine tidak dapat menggantikan armada kapal selam konvensional. Platform ini dapat mendukung pasukan operasi khusus, tetapi bukan merupakan aset utama dalam peperangan bawah laut. Korea Utara (DPRK), sebagai salah satu operator midget submarine terbesar di dunia, sering dijadikan contoh.

Pada tahun 2010, sebuah midget submarine-kemungkinan kelas Yono-diduga menembakkan torpedo yang menenggelamkan korvet Angkatan Laut Korea Selatan, Cheonan. Meski insiden ini kerap dijadikan argumen untuk menunjukkan relevansi midget submarine, platform tersebut bukanlah pilihan optimal untuk membangun strategi A2/AD yang efektif, sebagaimana terlihat dalam pengalaman Iran.

Menariknya, DPRK diperkirakan mengoperasikan sekitar 70 unit midget submarine. Namun, efektivitas platform ini sangat bergantung pada konteks geografis. Korea Utara beroperasi di lingkungan pesisir yang relatif sempit dan semi-tertutup, dengan luas sekitar 253.000 km², serta menghadapi satu adversary utama dalam garis maritim yang relatif linear.

Dalam kondisi tersebut, midget submarine masih dapat dianggap sesuai dengan kebutuhan. Sebaliknya, domain maritim Indonesia 32 kali lebih luas, mencakup tiga chokepoint global penting, dan menghadapi ancaman dari berbagai arah. Apa yang efektif bagi Korea Utara tidak serta-merta relevan bagi konteks kepulauan Indonesia.

Indonesia sendiri tidak memulai dari nol. Program Scorpène Evolved, yang pembangunannya telah dimulai di PT PAL Surabaya, akan memberikan TNI AL kemampuan kapal selam dengan daya serang penuh-menjadi tulang punggung utama kekuatan bawah laut nasional.

Di sisi lain, program lokal KSOT menawarkan pendekatan yang lebih selaras dengan pelajaran dari Teluk Persia: platform otonom yang mampu menjalankan misi disrupsi di wilayah pesisir, seperti yang dilakukan UUV secara efektif dalam konflik tersebut, dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan platform berawak.

Dalam arsitektur ini-Scorpène sebagai tulang punggung konvensional dan KSOT sebagai lapisan asimetris-rasional strategis untuk mengembangkan midget submarine menjadi sangat terbatas. Jika Jakarta tetap mempertimbangkannya, maka konsep operasi yang sangat spesifik harus dirumuskan terlebih dahulu. Pelajaran dari Teluk Persia menunjukkan bahwa jawabannya adalah peran yang akan sangat terbatas.


(miq/miq)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |