Kanthi Malikhah, CNBC Indonesia
11 March 2026 14:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Dua pemimpin Tertinggi Iran yakni Ruhollah Khomeini dan Ayatollah Ali Khamenei dikenal tidak pernah melakukan perjalanan ke luar negeri. Dunia menunggu apakah penggantinya Mojtaba Khamenei akan melanjutkan tradisi serupa.
Ayatollah Ali Khamenei merupakan pemimpin dunia yang tidak pernah melakukan perjalanan ke luar negeri selama menjabat sebagai Supreme Leader. Setelah pelantikannya pada 1989, Khamenei tercatat tidak pernah lagi melakukan kunjungan resmi ke negara lain.
Perjalanan terakhirnya ke luar negeri terjadi pada Mei 1989, ketika ia masih menjabat sebagai Presiden Iran. Saat itu Khamenei melakukan kunjungan ke China dan Korea Utara, dua negara yang menjadi mitra strategis Iran.
Tak lama setelah perjalanan tersebut, Pemimpin Revolusi Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini meninggal dunia pada Juni 1989. Majelis Ahli kemudian menunjuk Khamenei sebagai Supreme Leader Iran. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi meninggalkan tanah Iran.
Foto: Seorang demonstran memegang potret Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei saat warga Irak menghadiri unjuk rasa untuk menunjukkan solidaritas dengan Iran, di tengah konflik Iran-Israel, di distrik Syiah Kadhimiya, Baghdad, Irak, 21 Juni 2025. s(REUTERS/Ahmed Saad)
Seorang demonstran memegang potret Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei saat warga Irak menghadiri unjuk rasa untuk menunjukkan solidaritas dengan Iran, di tengah konflik Iran-Israel, di distrik Syiah Kadhimiya, Baghdad, Irak, 21 Juni 2025. (REUTERS/Ahmed Saad)
Mengikuti Preseden Khomeini
Alasan utama Khamenei tidak pernah melakukan perjalanan luar negeri adalah karena mengikuti preseden yang ditetapkan pendahulunya, Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Khomeini sebelumnya pernah hidup dalam pengasingan di Prancis sebelum kembali ke Iran pada Februari 1979 saat Revolusi Iran. Setelah kembali ke negaranya, ia berjanji tidak akan lagi meninggalkan tanah Iran hingga akhir hayatnya.
Khamenei kemudian mengadopsi pendekatan yang sama ketika menjabat sebagai pemimpin tertinggi. Dalam struktur politik Republik Islam Iran, Supreme Leader memegang kekuasaan tertinggi di negara tersebut sehingga hampir seluruh keputusan strategis diambil dari dalam negeri.
Mengendalikan Politik Iran dari Teheran
Selama lebih dari tiga dekade memimpin Iran, Khamenei menjalankan seluruh kebijakan strategis negara dari Teheran. Ia menerima kunjungan para pemimpin dunia di Iran, sementara perwakilan diplomatik dan pejabat militer Iran yang melakukan perjalanan ke luar negeri.
Keputusan besar terkait perang, negosiasi nuklir, hingga kebijakan luar negeri Iran sebagian besar dikendalikan dari dalam negeri.
Khamenei juga menjadi salah satu pemimpin yang paling lama memegang kekuasaan di Timur Tengah dengan masa jabatan hingga 36 tahun dan 6 bulan. Durasi ini menjadikan Khamenei sebagai pemimpin Iran dengan masa jabatan terpanjang setelah Shah Mohammad Reza Pahlavi.
Pimpinan Tertinggi mempunyai kewenangan untuk menunjuk kepala pos-pos penting seperti komandan angkatan bersenjata, kepala yayasan keagamaan besar, direktur jaringan radio dan televisi nasional, pemimpin salat di masjid-masjid kota, hakim ketua, anggota Dewan Keamanan nasional, dan menangani urusan-urusan. dengan urusan luar negeri dan pertahanan, kepala jaksa, 12 hakim Dewan Wali.
Pemimpin Tertinggi Iran merancang kebijakan umum Iran, mengawasi pelaksanaan kebijakan sistem yang tepat, mengeluarkan keputusan mengenai referendum nasional.
Dia juga memegang komando tertinggi atas angkatan bersenjata dan bertanggung jawab atas deklarasi perang, mobilisasi angkatan bersenjata, kendali penuh atas Fuqaha di Guardian Dewan, otoritas kehakiman Iran, kepala staf gabungan, panglima tertinggi angkatan bersenjata, penandatanganan keputusan pemilu di Iran, pengampunan dan pengurangan hukuman bagi terpidana, dan lainnya.
Pemimpin Tertinggi Iran bersama-sama dengan dua pertiga mayoritas anggota Parlemen juga bisa memakzulkan presiden berkuasa.
Pemimpin Tertinggi Iran adalah peran yang baru ada sejak negara tersebut mengakhiri sistem monarki dan beralih ke Republik pada 1979.
Hanya ada tiga Pemimpin Tertinggi Iran dalam sejarah Negara Para Mullah yakni Ayatollah Sayyid Ruhollah Musavi Khomeini yang merupakan Pemimpin Tertinggi pertama Iran dan memegang jabatan hingga 1989. Pemimpin Tertinggi kedua adalahAyatullah Sayyid Ali Khameneiyang memegang jabatan sejak 1989 hingga saat ini.
Terbaru, Majelis Ahli Iran secara resmi telah menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru untuk menggantikan mendiang ayahnya, Ali Khamenei. Penunjukan ini dilakukan menyusul tewasnya Ali Khamenei dalam sebuah serangan yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada akhir Februari lalu.
Pemilihan Mojtaba dilakukan melalui pemungutan suara dalam pertemuan rahasia yang digelar oleh Majelis Ahli pada Minggu (08/03/2026). Langkah ini menjadi peristiwa bersejarah karena untuk pertama kalinya sejak Revolusi Iran tahun 1979, otoritas tertinggi negara tersebut berpindah secara efektif dari ayah ke anak.
"Ini adalah pertama kalinya sejak Revolusi Iran 1979 bahwa otoritas tertinggi negara secara efektif beralih dari ayah ke putra," tulis laporan NDTV, Senin (09/03/2026).
Sebelum penunjukan permanen ini, Iran sempat mengalami kekosongan kepemimpinan di tengah situasi perang yang berkecamuk. Kekuasaan sempat dialihkan sementara kepada dewan interim yang beranggotakan tiga orang, yakni Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, dan ulama Alireza Arafi, sebelum akhirnya Majelis Ahli menetapkan penerus tetap.
(mae/mae)
Addsource on Google

















































