Pengusaha Hotel Was-Was Efek Harga Tiket Pesawat Naik-Armada Terbatas

3 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri pariwisata nasional mulai mewaspadai potensi perlambatan perjalanan wisatawan domestik menjelang musim libur sekolah. Tingginya harga tiket pesawat hingga tekanan daya beli masyarakat menjadi tantangan utama yang kini dihadapi sektor pariwisata.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran, mengatakan wisatawan nusantara masih menjadi tulang penopang industri pariwisata Indonesia. Karena itu, kondisi ekonomi masyarakat sangat menentukan pergerakan sektor tersebut.

"Kalau kita bicara pariwisata di Indonesia, sebenarnya yang paling penting itu kontribusi perjalanan wisatawan nusantara. Untuk mendorong itu berkembang, yang pertama harus dijaga adalah daya beli masyarakat. Kalau daya belinya rendah tentu perjalanan akan sulit dilakukan," kata Maulana kepada CNBC Indonesia, Kamis (7/5/2026).

Selain daya beli, persoalan akses transportasi juga dinilai menjadi hambatan besar. Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat bergantung pada transportasi udara untuk menggerakkan perjalanan domestik antardaerah. Sayangnya, kenaikan harga tiket pesawat disebut mulai memukul minat masyarakat untuk bepergian.

"Sekarang dengan naiknya harga tiket ini jadi tantangan tersendiri. Belum lagi jumlah armada pesawat untuk perjalanan domestik juga masih terbatas," ujarnya.

PHRI juga menyoroti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak pada biaya perjalanan darat. Tekanan biaya transportasi kini dirasakan hampir di seluruh jalur perjalanan wisata. Situasi global yang belum stabil ikut membuat sektor pariwisata domestik semakin rentan.

"Kalau dalam negeri, perjalanan wisatawan nusantara memang banyak tantangannya. Dengan situasi geopolitik sekarang, yang paling utama itu menjaga daya beli masyarakat," kata Maulana.

PHRI mencatat tingkat okupansi hotel pada Januari dan Februari sebenarnya lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan baru mulai terlihat pada Maret karena terdorong momentum Lebaran.

Perbandingan dengan tahun sebelumnya juga perlu dilihat detil karena perbedaan momentum Ramadan dan Lebaran memengaruhi pola perjalanan masyarakat.

"Bulan Maret tahun ini ada kontribusi Lebaran, sementara tahun sebelumnya penuh Ramadan. Kalau Ramadan itu okupansi hotel hampir tidak pernah di atas 40%," katanya.

PHRI kini menaruh fokus pada situasi kuartal II-2026 setelah momentum Lebaran berlalu. Industri hotel disebut tidak ingin terlalu cepat merasa aman hanya karena ada lonjakan sementara pada musim mudik.

"Nanti kita lihat di kuartal dua bagaimana setelah libur Lebaran lewat. Jadi kita juga tidak boleh terlalu terlena dengan kondisi sekarang," ujar Maulana.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |