Puluhan Negara Eropa Makin Lama Makin Boncos, Defisit Bengkak

2 hours ago 6

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

09 April 2026 10:52

Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan fiskal di Eropa kembali meningkat, dengan sejumlah negara mencatat defisit anggaran yang semakin melebar di tengah perlambatan ekonomi dan lonjakan belanja pemerintah.

Aturan fiskal di Eropa menetapkan batas defisit sebesar 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, data terbaru menunjukkan bahwa banyak negara telah melampaui batas tersebut secara signifikan.

Lonjakan defisit ini tidak terlepas dari warisan kebijakan selama pandemi, ketika pemerintah meningkatkan belanja secara besar-besaran untuk menopang ekonomi. Tekanan tersebut berlanjut akibat pertumbuhan ekonomi yang lemah, guncangan energi, serta peningkatan belanja pertahanan di tengah ketegangan geopolitik.

Rumania, Polandia, dan Belgia tercatat sebagai negara dengan defisit anggaran terbesar di Eropa, masing-masing sebesar (-7,3%), (-5,8%), dan (-5,7%) terhadap PDB. Tingginya defisit ini menunjukkan tekanan fiskal yang signifikan, dimana pengeluaran pemerintah jauh melampaui pendapatan.

Faktor Geopolitik dan Energi Mendorong Defisit

Perang di Ukraina menjadi salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan defisit, terutama di negara-negara Eropa Timur. Polandia, misalnya, mencatat defisit sebesar 5,8% dari PDB, yang sebagian besar dipicu oleh lonjakan belanja pertahanan sejak 2022. Sebagai negara garis depan dalam NATO, Polandia secara agresif meningkatkan anggaran militernya untuk merespons ancaman geopolitik.

Selain itu, krisis energi pasca invasi Rusia juga memaksa pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk subsidi energi dan stabilisasi harga. Kombinasi antara tekanan eksternal dan kebutuhan domestik ini memperpanjang periode defisit tinggi di banyak negara.

Tiga ekonomi terbesar di Eropa Prancis, Jerman, dan Italia menunjukkan kondisi fiskal yang berbeda. Prancis (-5,4%) dan Italia (-3,4%) masih berada di atas batas defisit Uni Eropa sebesar (3%) dari PDB, sementara Jerman (-2,8%) masih sedikit di bawah ambang tersebut.

Jerman yang dikenal disiplin fiskal kini menghadapi tekanan akibat pandemi, krisis energi, dan perlambatan ekonomi, sehingga mulai melonggarkan aturan utangnya untuk meningkatkan investasi.

Di sisi lain, Prancis terkendala masalah politik dalam mengendalikan anggaran, sedangkan Italia masih dibebani hutang publik yang sangat tinggi, sehingga ruang fiskalnya menjadi terbatas.

Bagaimana dengan di Indonesia?

 Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Maret 2026 tercatat defisit Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pendapatan negara mencapai Rp 574,9 triliun, tumbuh 10,5% (year on year/yoy). Perpajakan memberikan sumbangan Rp462,7 triliun (14,3%) dengan andil terbesar dari pajak sebesar Rp394,8 triliun (20,7%). Sementara bea cukai Rp67,9 triliun (-12,6%).

Belanja negara sudah terealisasi Rp815 triliun (31,4%). Pemerintah pusat mencairkan Rp610,3 triliun (47,7%) dan transfer ke daerah Rp204,8 triliun (-1,1%).

"Ketika ada defisit jangan kaget, karena APBN didesain defisit. Ini sesuatu yang normal, yang penting kita pantau terus," kata Purbaya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (6/4/2026).

Pada 2025, defisit mencapai 2,92% dari PDB atau jauh lebih tinggi dibandingkan pada 2024 yakni 2,29% dari PDB.

(mae/mae)

Read Entire Article
Photo View |