Kanthi Malikhah, CNBC Indonesia
28 March 2026 17:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Dukungan publik Amerika Serikat (AS) terhadap perang menunjukkan tren penurunan tajam dalam beberapa dekade terakhir.
Survei terbaru bahkan menunjukkan hanya sebagian kecil warga yang mendukung opsi militer Presiden AS Donald Trump terhadap Iran, mencerminkan perubahan besar dalam cara pandang masyarakat terhadap perang.
Survei yang dirilis pada Rabu (25/3/2026) menunjukkan hanya 35% warga Amerika menyetujui serangan AS terhadap Iran, turun dari 37% dalam survei Reuters/Ipsos minggu lalu. Sekitar 61% tidak menyetujui serangan tersebut, dibandingkan 59% minggu lalu.
Survei Reuters/Ipsos sebelumnya dilakukan segera setelah serangan pertama AS dan Israel, ketika banyak warga Amerika masih mempelajari situasinya, dan responden diberi opsi untuk menyatakan ketidakpastian pandangan mereka.
Survei 28 Februari-1 Maret menemukan 27% menyetujui serangan, 43% tidak setuju, dan 29% ragu-ragu.
Survei terbaru tidak lagi memberikan opsi ketidakpastian, meski 5% responden menolak menjawab pertanyaan mengenai pandangan mereka tentang perang.
Sekitar 46% responden mengatakan perang di Iran akan membuat AS kurang aman dalam jangka panjang.
Hanya 26% yang menilai perang akan membuat negara lebih aman, sementara sisanya mengatakan perang tidak akan berpengaruh signifikan.
Meski Trump dalam beberapa hari terakhir menyarankan perang bisa segera mereda, Iran membantah klaim Trump bahwa negosiasi sedang berlangsung, dan Reuters melaporkan Selasa lalu bahwa Washington diperkirakan akan mengirim ribuan tentara tambahan ke Timur Tengah.
Warga AS Semakin Tidak Mendukung Perang
Survei yang dilakukan The New York Times juga menunjukkan adanya penurunan dukungan warga AS terhadap perang.
Pada Perang Dunia II, tingkat dukungan mencapai sekitar 97%, mencerminkan konsensus nasional yang sangat kuat. Namun, dalam konflik modern, dukungan tersebut terus menurun. Bahkan konflik terbaru seperti Iran, tingkat dukungannya hanya sekitar 41%, menjadi salah satu yang terendah dalam sejarah perang AS.
Data di atas menunjukkan bahwa secara nasional, opini publik cenderung skeptis terhadap keterlibatan militer AS dalam eskalasi konflik dengan Iran. Ada sejumlah alasan mengapa warga AS kurang mendukung tindakan Trump di Perang Iran:
1. Tujuan Perang yang Tidak Jelas
Dukungan publik terhadap perang melemah karena tujuan intervensi dinilai tidak transparan. Dalam kasus Iran, negara tersebut tidak dianggap menimbulkan ancaman langsung terhadap warga Amerika sebelum wacana serangan muncul. Kondisi ini membuat alasan perang sulit dipahami publik, berbeda dengan konflik seperti Perang Dunia II yang memiliki justifikasi kuat dan jelas.
2.Ketidakjelasan Akhir dan Tingkat Keberhasilan
Ambiguitas mengenai bagaimana dan kapan perang akan berakhir menjadi faktor penting lainnya. Tanpa indikator keberhasilan yang jelas, publik kesulitan menilai apakah intervensi militer tersebut sepadan dengan biaya dan risiko yang ditanggung. Ketidakpastian ini pada akhirnya menurunkan kepercayaan terhadap efektivitas perang.
3. Prioritas Ekonomi Domestik Lebih Dominan
Di luar faktor strategis, isu domestik seperti keterjangkauan hidup dan biaya hidup menjadi perhatian utama masyarakat AS. Dibandingkan kebijakan luar negeri, tekanan ekonomi sehari-hari lebih dirasakan langsung oleh publik. Akibatnya, dukungan terhadap perang semakin terpinggirkan karena dianggap bukan prioritas utama.
Apa yang Mendorong Dukungan Publik dalam Perang?
Meski tren jangka panjang menurun, dukungan perang di AS masih bisa melonjak saat krisis besar. Pasca Serangan 11 September, perang Afghanistan sempat mendapat dukungan 92%, sementara Perang Irak 2003 meraih 76%. Namun, dukungan ini tidak bertahan lama seiring konflik berlarut, opini publik berbalik.
Hal ini menunjukkan bahwa persepsi ancaman langsung menjadi faktor utama pendorong dukungan, meski kini sifatnya hanya sementara dan cepat memudar.
Dukungan ke Trump Secara Keseluruhan Anjlok
Di luar perang, survei Ipsos terbaru juga menunjukkan secara keseluruhan tingkat persetujuan atau approval rating Presiden Trump turun ke level terendah sejak kembali menjabat di Gedung Putih. Jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos menunjukkan approval rating Trump merosot menjadi 36%, dari 40% pada survei pekan sebelumnya.
Survei yang dilakukan selama empat hari hingga Senin itu menyoroti memburuknya persepsi publik terhadap kinerja Trump, terutama dalam menangani ekonomi dan kenaikan biaya hidup. Lonjakan harga bahan bakar, yang terjadi setelah serangan militer terkoordinasi AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, menjadi salah satu pemicu utama penurunan dukungan.
Hanya 25% responden yang menyatakan puas dengan penanganan Trump terhadap biaya hidup. Sementara itu, tingkat persetujuan atas kebijakan ekonominya hanya mencapai 29%, terendah sepanjang masa jabatannya dan lebih rendah dibandingkan pendahulunya, Joe Biden.
Foto: Reuters
Approval rating Trump
"Penting bagi masyarakat untuk mengetahui bahwa presiden merasakan penderitaan mereka dan bantuan sedang dalam perjalanan," kata Amanda Makki, ahli strategi politik dari Partai Republik, dikutip Rabu (25/3/2026).
Survei juga mencatat 63% warga AS menilai kondisi ekonomi saat ini "agak lemah" atau "sangat lemah". Rinciannya termasuk 40% pemilih Partai Republik, 66% independen, dan 84% Demokrat.
Survei daring nasional ini melibatkan 1.272 responden dewasa di AS. Survei ini memiliki margin of error (batas galat) sebesar 3 poin persentase.
Foto: Reuters
Tingkat kepuasan terhadap Trump
(mae/mae)
Addsource on Google
















































