Setetes Miras Picu Kerusakan Otak, Peneliti Ungkap Fakta Ngeri

4 hours ago 8

Jakarta, CNBC Indonesia - Sudah bukan rahasia umum bahwa mengonsumsi minuman keras (miras) memiliki dampak buruk bagi tubuh. Menurut ajaran agama Islam, miras juga diharamkan.

Kendati demikian, masih banyak orang yang mengonsumsi miras secara rekreasional, misalnya untuk merayakan hari spesial tertentu. Beberapa orang menganggap konsumsi miras tidak berbahaya bagi tubuh, selama tidak berlebihan.

Hal ini dibantah oleh studi terbaru. Ternyata, mengonsumsi miras dalam jumlah kecil sudah bisa memicu kerusakan otak yang fatal, dikutip dari Science Alert, Senin (27/4/2026).

Tim peneliti dari Amerika Serikat (AS) mengaitkan level konsumsi miras dengan penurunan perfusi otak atau aliran darah. Selain itu, miras juga disebut menyebabkan korteks yang lebih tipis. Korteks merupakan bagian otak tempat sebagian besar pemikiran tingkat tinggi ditangani.

Perlu dicatat, tanda-tanda ini ditemukan pada orang-orang yang mengonsumsi kurang dari 60 miras per bulan untuk pria dan kurang dari 30 miras per bulan untuk wanita. Di sini, satu minuman setara dengan 14 gram etanol murni, jadi kira-kira setara dengan sebotol bir, segelas kecil anggur, atau segelas minuman beralkohol.

Menjaga kadar di bawah level tersebut telah lama direkomendasikan, meskipun pedoman diet terbaru AS tidak lagi menetapkan batas harian yang aman.

Terlebih lagi, para peneliti menemukan korelasi antara konsumsi alkohol, usia, dan pengukuran aliran darah, serta ketebalan lapisan luar otak alias korteks. Temuan ini menunjukkan bahwa efek dari minum alkohol sesekali pun dapat menumpuk seiring waktu.

"Konsumsi alkohol yang dianggap 'berisiko rendah' mungkin memiliki konsekuensi terhadap integritas jaringan kortikal, terutama seiring bertambahnya usia," tulis para peneliti dalam makalah yang mereka publikasikan.

Studi ini melibatkan 45 orang dewasa yang sehat dengan rentang usia 27-70 tahun. Mereka tidak memiliki rekam jejak mengonsumsi minuman beralkohol dalam jumlah besar selama setahun ke belakang.

Mereka ditanyai tentang kebiasaan mengonsumsi miras selama setahun ke belakang, tiga tahun, hingga seumur hidup.

Di antara semua peserta, rata-rata konsumsi alkohol adalah 21 minuman per bulan, sepanjang hidup mereka. Sampel berkisar dari 1 hingga 54 minuman per bulan.

Data dari respons ini kemudian diplot terhadap pemindaian MRI yang mengukur volume dan ketebalan kortikal, serta pengukuran perfusi otak, yang tersedia untuk 27 peserta. Tes ini hanya dilakukan sekali, artinya para sukarelawan studi tidak dilacak dari waktu ke waktu.

Meskipun ketebalan kortikal dikaitkan dengan tingkat konsumsi alkohol, asosiasinya lebih kuat dengan perfusi otak. Ini menunjukkan bahwa kadar alkohol dapat memiliki efek yang lebih besar pada aliran darah, yang pada gilirannya berisiko merusak jaringan otak.

Seperti halnya bagian tubuh lainnya, sirkulasi yang kuat di otak sangat penting untuk mengantarkan oksigen dan nutrisi ke tempat yang dibutuhkan dan membuang limbah.

"Secara keseluruhan, temuan ini mungkin mencerminkan efek kumulatif dari konsumsi alkohol tingkat rendah sepanjang hidup, yang berinteraksi dengan usia untuk mendorong penurunan sinergis pada perfusi dan ketebalan kortikal," tulis para peneliti.

Para peneliti menyarankan bahwa stres oksidatif, yakni keausan biologis, yang dapat dipicu oleh alkohol. Kemungkinan ini merupakan salah satu faktor kunci dalam kerusakan otak.

Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan lebih lanjut. Studi ini tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat langsung, sebagian karena hanya menangkap satu titik waktu. Selain itu, kebiasaan minum dilaporkan sendiri, sehingga mungkin tidak sepenuhnya akurat, dan faktor-faktor seperti diet dan olahraga tidak diperhitungkan.

Meskipun dengan keterbatasan tersebut, ini adalah temuan penting yang sesuai dengan tren yang berkembang dalam penelitian kesehatan. Beberapa studi sekarang mempertanyakan gagasan bahwa ada tingkat konsumsi alkohol yang 'aman' menyangkut kesehatan kita.

Faktanya, pedoman diet kesehatan resmi AS terbaru, yang diperbarui awal tahun ini, tidak secara spesifik menyebutkan jumlah konsumsi alkohol tertentu yang harus dipatuhi. Sebaliknya, mereka menyatakan bahwa orang harus "mengonsumsi lebih sedikit alkohol untuk kesehatan secara keseluruhan yang lebih baik".

Dengan studi dan temuanyang telah dipublikasikan sebelumnya, mungkin sudah saatnya untuk mempertimbangkan kembali seberapa jarang Anda ingin mengonsumsi minuman beralkohol sesekali.

Para peneliti menyimpulkan bahwa kita membutuhkan lebih banyak penelitian, untuk lebih memahami implikasi neurobiologis fungsional dari konsumsi alkohol 'berisiko rendah' pada orang dewasa.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |