AS Habiskan Ribuan Rudal di Iran, Nasib Taiwan Kini Dipertaruhkan

8 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

25 April 2026 12:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Amerika Serikat melawan Iran mulai membuka persoalan baru bagi Washington. Bukan hanya soal biaya perang, tetapi juga soal terkurasnya persediaan rudal penting yang selama ini menjadi tulang punggung operasi militer AS.

Berdasarkan Analisis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan, dalam 39 hari serangan udara dan rudal AS dalam operasi "Epic Fury" sebelum gencatan senjata berlaku, AS telah memakai ribuan amunisi presisi. Sebagian di antaranya merupakan senjata mahal, terbatas, dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibuat.

CSIS menilai AS memang belum berada di titik kehabisan amunisi untuk perang Iran. Namun, penggunaan besar-besaran ini mulai menciptakan risiko untuk konflik berikutnya, terutama jika Washington harus menghadapi skenario perang besar di Pasifik Barat.

Berdasarkan estimasi CSIS, AS sudah menggunakan lebih dari 1.000 rudal Tomahawk dari perkiraan stok sebelum perang sebanyak 3.100 unit.

Tomahawk merupakan rudal jarak jauh yang bisa ditembakkan dari laut untuk menyerang target darat secara presisi.

Selain itu, AS juga menggunakan rudal JASSM yang dipakai untuk serangan jarak jauh dari udara. Rudal ini sudah terpakai lebih dari 1.100 unit dari stok awal sekitar 4.400 unit.

Tekanan lebih besar terlihat pada sistem pertahanan udara dan rudal. AS diperkirakan telah menggunakan 1.060 hingga 1.430 rudal Patriot dari stok sebelum perang sekitar 2.330 unit. Untuk THAAD, pemakaiannya diperkirakan mencapai 190 hingga 290 unit dari stok awal sekitar 360 unit.

Rudal SM-3 yang digunakan untuk mencegat rudal balistik juga diperkirakan sudah terpakai 130 hingga 250 unit dari stok sekitar 410 unit. Sementara SM-6 diperkirakan telah digunakan 190 hingga 370 unit dari stok awal sekitar 1.160 unit.

Masalahnya, rudal-rudal tersebut tidak bisa diproduksi dan dikirim dengan cepat. CSIS mencatat waktu pengiriman penuh untuk sejumlah amunisi kunci bisa mencapai puluhan bulan. Patriot membutuhkan sekitar 42 bulan, Tomahawk sekitar 47 bulan, JASSM sekitar 48 bulan, SM-6 sekitar 53 bulan, THAAD sekitar 53 bulan, dan SM-3 IIA bahkan bisa mencapai 64 bulan.

Dengan kata lain, tambahan anggaran pertahanan pun tidak otomatis membuat stok rudal AS langsung tersedia. Butuh waktu bertahun-tahun sampai persediaan kembali mendekati level sebelum perang.

Stok Rudal Menipis, Taiwan Jadi Taruhan

Kondisi ini kemudian menyeret isu yang lebih besar, yakni kesiapan AS menghadapi skenario konflik di Taiwan.

Mengutip laporan The Wall Street Journal, sejumlah pejabat AS menilai perang Iran telah menguras begitu banyak amunisi sehingga Washington mungkin tidak bisa sepenuhnya menjalankan rencana kontingensi untuk mempertahankan Taiwan dari invasi China jika konflik terjadi dalam waktu dekat.

Menurut laporan tersebut, AS telah menembakkan lebih dari 1.000 rudal Tomahawk sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Selain itu, AS juga disebut telah menggunakan 1.500 hingga 2.000 rudal pertahanan udara penting, termasuk THAAD, Patriot, dan Standard Missile.

Sejumlah pejabat AS mengatakan penggantian penuh stok tersebut bisa memakan waktu hingga enam tahun. Kondisi ini memicu diskusi di internal pemerintahan mengenai perlunya menyesuaikan rencana operasional jika suatu saat presiden memerintahkan militer AS mempertahankan Taiwan.

Meski begitu, laporan tersebut juga menekankan bahwa tidak ada tanda konflik dengan China akan segera pecah. Intelijen AS pada Maret menilai Beijing kecil kemungkinan melancarkan perang terhadap Taiwan pada 2027 dan tidak memiliki jadwal tetap untuk unifikasi.

Pemerintah AS juga membantah bahwa kesiapan militernya terganggu. Gedung Putih menyebut premis laporan tersebut keliru, sementara Pentagon menyatakan militer AS memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjalankan operasi sesuai perintah presiden.

Namun, kekhawatiran soal stok amunisi tetap tidak bisa diabaikan. China bukan lawan seperti Iran. Beijing memiliki kekuatan militer jauh lebih besar, termasuk rudal balistik, drone, angkatan laut besar, dan kemampuan anti-access area denial yang dapat membatasi pergerakan kapal serta pesawat AS di sekitar Taiwan.

Dalam skenario seperti itu, stok rudal jarak jauh dan sistem pertahanan udara menjadi sangat krusial. Semakin banyak amunisi dipakai di Timur Tengah, semakin besar tekanan terhadap kesiapan AS di Pasifik.

CSIS juga menyampaikan kekhawatiran serupa. Lembaga itu menilai perang melawan negara besar seperti China akan menghabiskan amunisi dengan laju yang lebih tinggi dibanding perang Iran.

Bahkan sebelum perang Iran, stok AS sudah dinilai belum cukup untuk menghadapi konflik dengan pesaing setara.

Artinya, perang Iran belum membuat AS benar-benar kehabisan amunisi. Namun, perang ini memperlihatkan kelemahan besar dalam perang modern. Rudal bisa habis jauh lebih cepat daripada kemampuan industri pertahanan untuk memproduksinya kembali.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |