Bos Pengusaha Ingatkan RI Belajar dari Vietnam, Soroti WFH-Risiko Ini

7 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelaku usaha mengingatkan agar arah kebijakan ketenagakerjaan tidak mengganggu daya saing sektor manufaktur di tengah persaingan global yang semakin ketat. Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur menilai perlindungan tenaga kerja tetap penting, namun perlu diseimbangkan dengan kebutuhan industri.

"Perlindungan tenaga kerja adalah hal yang prinsipil. Tetapi dalam konteks industri manufaktur, perlindungan itu harus berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas dan fleksibilitas industri. Tanpa keseimbangan tersebut, Indonesia berisiko semakin kehilangan daya saing global," ujar Abdul Sobur dalam keterangannya, Kamis (29/4/2026).

Saat ini tantangan yang dihadapi industri tidak hanya berasal dari tekanan global, tetapi juga dari dalam negeri seperti regulasi yang dinilai kaku, produktivitas tenaga kerja yang belum optimal, serta biaya produksi yang terus meningkat.

Ia menegaskan, kebijakan kerja fleksibel seperti work from home (WFH) tidak bisa diterapkan secara seragam, khususnya di sektor manufaktur padat karya yang sangat bergantung pada kehadiran fisik pekerja.

"WFH tidak bisa dipukul rata untuk semua sektor. Di industri manufaktur, terutama padat karya, pekerjaan sangat terkait dengan proses produksi, mesin, material, finishing, quality control, dan delivery. Jika kebijakan dibuat terlalu umum tanpa membaca karakter sektor, maka daya saing industri bisa ikut tertekan," ujarnya.

Ia juga menyinggung persaingan dengan negara lain seperti Vietnam yang dinilai lebih mampu menarik investasi manufaktur karena kombinasi kebijakan yang dinilai lebih fleksibel dan konsisten.

"Kita harus jujur melihat fakta global. Vietnam menjadi magnet investasi bukan hanya karena upah, tetapi karena mereka menawarkan ekosistem yang lebih fleksibel, produktif, dan konsisten. Ini pelajaran penting bagi Indonesia," sebutnya.

Di tengah kondisi tersebut, kebijakan yang ada tidak bisa menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha.

"Jangan sampai niat baik melindungi pekerja justru membuat industri kehilangan kemampuan bertahan, menunda ekspansi, atau bahkan mengurangi tenaga kerja. Yang kita butuhkan adalah ekosistem yang adil sekaligus kompetitif," kata Sobur.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |