Negara Arab Ramai-Ramai Antre ke RI, Mendag Ungkap Alasannya

2 hours ago 8

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan, sejumlah negara di kawasan Timur Tengah kini mulai aktif menjajaki kerja sama dagang dengan Indonesia. Fenomena ini terjadi setelah keberhasilan Indonesia menjalin perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA) dengan Uni Emirat Arab (UEA), yang dinilai menjadi pintu masuk ke kawasan tersebut.

"Kenapa ekspor kita 40% ke UAE di Timur Tengah? Karena kita sudah mempunyai CEPA dengan UAE. Nah memang membuat perjanjian dagang dengan negara Timur Tengah itu tidak mudah. Jadi kita kalau berunding dengan kawasan itu memang tidak mudah. Termasuk dengan EU [Uni Eropa] saja kita butuh 10 tahun. Dengan Timur Tengah juga sudah lama kita berunding," kata Budi dalam acara Rakornas Kadin Indonesia di Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Ia menjelaskan, strategi membuka pasar kawasan Timur Tengah dilakukan secara bertahap dengan menjadikan satu negara sebagai pintu masuk awal. Uni Emirat Arab (UEA) dipilih sebagai mitra pertama melalui penyelesaian perjanjian dagang komprehensif atau CEPA, yang kemudian menjadi semacam referensi keberhasilan bagi negara lain di kawasan tersebut.

Menurutnya, keberhasilan kerja sama dengan UEA mendorong meningkatnya minat negara-negara Timur Tengah lain untuk menjajaki perundingan serupa dengan Indonesia, sehingga memperluas peluang ekspor nasional ke kawasan tersebut.

"Nah caranya bagaiman supaya Timur Tengah itu mudah? Makanya kita ambil dulu ya istilahnya itu kita peretelin satu gitu ya. UAE kita ajak kerja sama, ternyata dia mau. Nah setelah membuat CEPA selesai dengan UAE, kemudian negara-negara Timur Tengah sekarang mulai aktif berunding dengan kita. Jadi itu sebenarnya salah satu cara ketika UAE itu sudah berhasil dengan kita, maka negara-negara Timur Tengah lainnya juga ingin membuat perjanjian dagang," jelasnya.

Di tengah meningkatnya minat kerja sama tersebut, Budi juga mengakui kondisi perdagangan global saat ini masih penuh tantangan, termasuk dampak konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

"Sekarang di sektor perdagangan, khususnya perdagangan global kita memang banyak mengalami tantangan. Kalau tahun lalu kita menghadapi resiprokal tarif. Sekarang perang di Timur Tengah, tentu berdampak. Ekspor kita tapi masih positif. Januari-Februari kita masih tumbuh 2,19%. Artinya 70 bulan berturut-turut kita itu surplus," ujar dia.

"Memang kalau ke Timur Tengah kita pasti berdampak. Januari-Februari kita ini ekspor ke Timur Tengah turun 13%. Tapi kita tetap surplus US$641 juta ke Timur Tengah. Nah ke Timur Tengah ekspor kita itu US$9,8 miliar atau 3,4% dari total ekspor kita ke dunia. Kalau 100% ekspor kita ke Timur Tengah itu 40% kita ekspor ke UAE, 29% kita ke Arab Saudi, yang lainnya ke beberapa negara di Timur Tengah. Ke Iran itu 2,5% atau US$2,5 juta," paparnya.

Meski ekspor ke kawasan tersebut sempat tertekan, ia menegaskan Indonesia masih mencatatkan surplus perdagangan, menunjukkan daya tahan kinerja ekspor nasional.

Selain itu, pemerintah juga terus memperluas jaringan perjanjian dagang dengan berbagai negara dan kawasan untuk memperkuat akses pasar ekspor.

"Kita sudah menyelesaikan 5 perundingan dagang. EU-CEPA, kemudian Indonesia-Kanada-CEPA, Eurasia-FTA, Indonesia-Peru-CEPA, dan sebenarnya dengan Tunisia itu sudah selesai. Cuma sampai sekarang memang belum sempat ditandatangani mungkin karena waktu itu Pak Menteri Perdagangan Tunisia ingin ke Indonesia, tapi sampai sekarang belum bisa. Jadi kita tinggal menunggu, tinggal tandatangani," ungkap Budi.

Ke depan, pemerintah berharap agar tren ketertarikan negara-negara Timur Tengah terhadap Indonesia dapat terus dimanfaatkan untuk memperluas pasar ekspor, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di tengah ketidakpastian perdagangan global.

(dem/dem)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |