Breaking, IHSG Anjlok 3% Balik ke Level 6.800-an

6 hours ago 12

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan cukup dalam pada perdagangan sesi kedua hari ini, Kamis (30/4/2026), dengan penurunan lebih dari 3%. Pada awal sesi dua, IHSG tercatat berada di level 6.887,36, turun 214 poin (-3,01%) dan menjadi titik terendah IHSG sepanjang tahun 2026. Bahkan, sejak awal tahun IHSG tercatat telah terkoreksi 20%.

Hanya 80 saham menguat, 645 saham melemah, dan 86 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 12,33 triliun dengan volume perdagangan sekitar 25,64 miliar saham dalam lebih dari 1,73 juta kali transaksi.

Seluruh sektor perdagangan melemah, dengan koreksi paling dalam dicatatkan oleh infrastruktur, barang baku dan energi.

Emiten tambang batu bara Grup Sinar Mas, Dian Swastatika Sentosa (DSSA), menjadi beban utama kinerja IHSG dengan pelemahan 16,31 indeks poin. Kemudian saham Barito Renewables Energy (BREN) milik Prajogo Pangestu juga anjlok dengan koreksi 12,17 indeks poin.

Lalu diikuti oleh BBRI dan BBCA dengan pelemahan masing-masing 9,4 dan 11,71 indeks poin.

Emiten lainnya yang menjadi pemberat IHSG termasuk MEGA, BRPT, AMMN, MDKA, TLKM dan TPIA.

Analis Doo Financial Futures mengatakan, sentimen yang menghantam IHSG masih seputar ketidakpasian geopolitik global yang masih terjadi saat ini.

"Secara umum memang global masih risk off dari ketidakpastian perdamaian di timteng, harga minyak yg kembali naik, merespon ancaman militer terbaru Trump dan FOMC yang hawkish semalam," ujarnya saat dihubungi oleh CNBC Indonesia, Kamis (30/4/2026).

Selain itu, belum ada pengungkit dari dalam negeri yang dapat dijadikan angin segar bagi pasar saham Indonesia. Nilai mata uang Rupiah terus mencetak pelemahan tertinggi, ditambah dengan kekhawatiran defisit anggaran. Belum lagi persoalan rebalancing dari MSCI yang juga masih menghantui.

"Belum ada sentimen yang bisa mengunkit, walau valuasi beberapa saham blue chip sudah cukup menarik, namun downside geopolitikal dan AI bubble masih mengancam," tambahnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Analis MNC Sekuritas Herditya yang mengatakan bahwa penguatan IHSG akan cenderung terbatas dan masih ada potensi pelemahan ke depannya.

"Dari sisi sentimen, nilai tukar Rupiah yg masih melemah terhadap USD di 17.390 masih menjadi sentimen pasar modal," sebutnya.

Selain itu, pergerakan bursa regional Asia pun cenderung koreksi ditambah dengan emiten-emiten perbankan dan energi yang membebani pergerakan IHSG.

"Dalam report teknikal kami ada potensi IHSG menembus area 6917 dan akan mengarah ke 6727-6800. Untuk sentimen sendiri hingga saat ini belum ada yang mendukung adanya penguatan," pungkasnya.

(fsd/fsd)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |