Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
28 April 2026 19:50
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell yang akan segera menutup masa jabatannya pada 15 Mei 2026 mendatang.
Sebelum itu, Powell dijadwalkan lebih dulu memimpin rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28-29 April 2026. Pertemuan ini akan menjadi rapat terakhir Powell sebagai Ketua The Fed sebelum masa jabatan periode keduanya berakhir.
Powell pertama kali menjabat sebagai Ketua The Fed pada 5 Februari 2018. Dia kemudian kembali dilantik untuk periode kedua pada 23 Mei 2022.
Meski masa jabatannya sebagai Ketua The Fed berakhir pada 15 Mei 2026, posisinya sebagai anggota Dewan Gubernur The Fed masih berlaku hingga 31 Januari 2028.
Delapan tahun kepemimpinan Powell bukanlah periode yang mudah. Dia memimpin The Fed ketika AS menghadapi perang dagang, tekanan politik dari Presiden Donald Trump, pandemi Covid-19, lonjakan inflasi tertinggi dalam empat dekade, hingga tekanan besar terhadap independensi bank sentral.
Keputusan Powell juga tidak hanya mengguncang Wall Street. Arah kebijakan The Fed ikut menentukan pergerakan dolar AS, arus modal global, yield obligasi, hingga tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Awal Menjabat, Powell Langsung Diuji Trump dan Pasar
Powell masuk ke kursi Ketua The Fed menggantikan Janet Yellen. Berbeda dari sejumlah pendahulunya yang dikenal kuat sebagai ekonom akademis, Powell datang dengan latar belakang hukum, pemerintahan, dan pasar keuangan.
Saat dia mulai menjabat pada 2018, ekonomi AS masih berada dalam kondisi yang relatif kuat. Tingkat pengangguran rendah, pasar tenaga kerja solid, dan ekonomi masih melanjutkan pemulihan setelah krisis keuangan global 2008.
Dalam situasi itu, The Fed di bawah Powell melanjutkan normalisasi kebijakan moneter.
Artinya, bank sentral AS mulai mengurangi kebijakan super-longgar yang sebelumnya diterapkan setelah krisis keuangan global. Salah satunya dilakukan dengan menaikkan suku bunga secara bertahap.
Pada Desember 2018, The Fed menaikkan suku bunga acuan ke kisaran 2,25%-2,50%. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak awal 2008. Kebijakan ini menunjukkan bahwa The Fed melihat ekonomi AS cukup kuat untuk menanggung bunga yang lebih tinggi.
Namun, keputusan itu langsung membawa Powell ke pusaran tekanan politik. Trump, yang saat itu ingin ekonomi tumbuh lebih cepat dan pasar saham tetap kuat, berkali-kali mengkritik The Fed. Bagi Trump, kenaikan suku bunga dapat menghambat laju ekonomi AS.
Di sinilah Powell menghadapi ujian awal sebagai Ketua The Fed. Dia harus menjaga kepercayaan pasar bahwa keputusan bank sentral dibuat berdasarkan kondisi ekonomi, bukan tekanan politik dari Gedung Putih.
Tekanan semakin besar ketika perang dagang AS-China menekan prospek ekonomi global. Ketidakpastian perdagangan membuat dunia usaha lebih berhati-hati, sementara pasar keuangan menjadi lebih sensitif terhadap arah kebijakan The Fed.
Foto: REUTERS/Carlos Barria
Pada 2019, The Fed akhirnya mulai memutar arah. Setelah sebelumnya menaikkan suku bunga, bank sentral AS mulai memangkas suku bunga untuk meredam risiko perlambatan ekonomi.
Fase ini menunjukkan satu hal penting dari gaya Powell, yakni pragmatis dan bersedia mengubah arah ketika data ekonomi mulai memberi sinyal bahaya.
Pandemi Covid-19: Tantangan Berat Powell
Ujian terbesar pertama Powell datang pada 2020, ketika pandemi Covid-19 menghantam dunia.
Aktivitas ekonomi berhenti mendadak, bisnis tutup, angka pengangguran melonjak, dan pasar keuangan global sempat panik.
Dalam waktu singkat, situasi berubah drastis. The Fed yang sebelumnya mencoba menjaga kebijakan tetap normal harus kembali membuka keran stimulus besar-besaran.
Pada Maret 2020, The Fed memangkas suku bunga acuan ke kisaran 0%-0,25%. Langkah ini dilakukan untuk menahan kepanikan pasar dan memberi ruang bagi dunia usaha serta rumah tangga agar tetap bisa mendapatkan pembiayaan murah.
Tidak hanya itu, The Fed juga kembali menjalankan pembelian aset dalam jumlah besar. Kebijakan ini dikenal sebagai quantitative easing. Tujuannya adalah memastikan pasar keuangan tetap memiliki likuiditas dan sistem kredit tidak berhenti bekerja.
Di masa itu, Powell banyak dipuji karena The Fed bergerak cepat. Pasar keuangan yang sempat jatuh dalam kembali mendapatkan dukungan. Biaya pinjaman ditekan rendah, likuiditas digelontorkan, dan kepercayaan terhadap sistem keuangan perlahan pulih.
Namun, kebijakan super-longgar tersebut juga membawa konsekuensi. Ketika ekonomi mulai dibuka kembali, uang murah, stimulus fiskal, dan permintaan masyarakat yang melonjak membuat tekanan harga mulai muncul.
Awalnya, banyak pihak melihat lonjakan harga hanya bersifat sementara. The Fed juga sempat menilai inflasi sebagai fenomena transitory atau sementara. Namun, perkiraan itu kemudian meleset.
Inflasi Tertinggi dalam 40 Tahun AS
Setelah pandemi, ekonomi AS memang pulih cepat. Namun, pemulihan itu tidak berjalan mulus.
Permintaan masyarakat melonjak, tetapi pasokan barang belum sepenuhnya pulih. Rantai pasok global masih terganggu, biaya logistik naik, dan harga energi ikut menanjak.
Kondisi itu membuat inflasi AS terus merangkak naik. Harga kebutuhan sehari-hari, energi, tempat tinggal, hingga jasa meningkat. Tekanan ini semakin berat karena rumah tangga AS sudah terbiasa dengan inflasi rendah selama bertahun-tahun.
Puncaknya terjadi pada Juni 2022. Inflasi AS melesat 9,1% secara tahunan, menjadi kenaikan terbesar dalam 40 tahun. Hal ini menandai perubahan besar dalam arah kebijakan The Fed.
Powell yang sebelumnya membawa The Fed menyelamatkan ekonomi dari pandemi kemudian harus berganti peran. Dari penyelamat pasar, dia berubah menjadi pemburu inflasi.
The Fed mulai menaikkan suku bunga secara agresif pada 2022. Tujuannya sederhana, tetapi dampaknya besar untuk membuat biaya pinjaman lebih mahal agar permintaan melambat dan tekanan harga bisa turun.
Kenaikan suku bunga berlangsung cepat. Pada Juli 2023, The Fed menaikkan suku bunga acuan ke kisaran 5,25%-5,50%. Ini menjadi level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.
Kebijakan ini membuat dolar AS menguat tajam dalam beberapa periode. Imbal hasil obligasi AS naik, investor global kembali memburu aset dolar, dan negara berkembang ikut merasakan dampaknya.
Namun, langkah keras The Fed perlahan mulai memberi hasil. Inflasi AS yang sempat menyentuh level tertinggi dalam empat dekade mulai melandai. Meski belum langsung kembali ke target 2%, tekanan harga tidak sepanas sebelumnya.
Setelah inflasi lebih terkendali dan risiko terhadap pasar tenaga kerja mulai ikut diperhatikan, The Fed akhirnya membuka ruang pelonggaran. Pada September 2024, The Fed memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin ke kisaran 4,75%-5,00%. Ini menjadi awal perubahan arah setelah periode pengetatan agresif.
Pemangkasan berlanjut pada November dan Desember 2024. Pada akhir 2024, suku bunga The Fed berada di kisaran 4,25%-4,50%.
Fase ini menjadi salah satu bagian paling penting dari warisan Powell. Dia memang dikritik karena dianggap terlambat membaca inflasi.
Namun, dia juga memimpin salah satu siklus kenaikan suku bunga paling agresif dalam sejarah The Fed dan berhasil menurunkan inflasi tanpa langsung menjatuhkan ekonomi AS ke resesi.
Tantangan Independensi The Fed dan Ancaman Trump
Di luar inflasi dan suku bunga, tantangan besar lain yang membayangi akhir masa jabatan Powell adalah independensi The Fed.
Hubungan Powell dengan Donald Trump sejak awal memang penuh tekanan. Trump menunjuk Powell sebagai Ketua The Fed pada 2018, tetapi kemudian menjadi salah satu pengkritik paling keras kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Perselisihan keduanya terutama bermula dari arah suku bunga.
Trump berkali-kali mendesak The Fed agar memangkas bunga lebih cepat karena bunga tinggi dianggap menekan ekonomi dan pasar saham. Namun, Powell tetap menegaskan bahwa keputusan The Fed harus mengacu pada data inflasi, pasar tenaga kerja, dan kondisi ekonomi, bukan tekanan politik dari Gedung Putih.
Tekanan itu kemudian berubah menjadi serangan personal. Trump menyebut Powell sebagai "Jerome 'Too Late' Powell", sindiran bahwa Powell selalu terlambat membaca arah ekonomi.
Dalam beberapa kesempatan, Trump juga melontarkan kritik keras lain kepada Powell.
Bagi pasar, serangan terbuka seperti ini menimbulkan kekhawatiran karena dapat mengganggu persepsi terhadap independensi The Fed.
Drama keduanya lalu melebar ke proyek renovasi gedung The Fed di Washington. Pada Juli 2025, Trump mengunjungi lokasi renovasi bersama Powell.
Di sana, Trump secara terbuka mengkritik biaya proyek yang menurutnya membengkak hingga sekitar US$3,1 miliar. Powell membantah hitungan tersebut karena angka itu dinilai ikut memasukkan renovasi gedung lain yang sudah selesai beberapa tahun sebelumnya.
Foto: Presiden AS Donald Trump menunjuk sebuah dokumen saat Ketua Federal Reserve Jerome Powell memeriksa fakta angka-angka di dalamnya selama tur di gedung Dewan Federal Reserve, yang saat ini sedang direnovasi, di Washington, D.C., AS, 24 Juli 2025. (REUTERS/Kent Nishimura)
Isu renovasi ini kemudian menjadi amunisi politik baru. Tekanan terhadap Powell mencapai titik serius ketika Departemen Kehakiman AS (DOJ) membuka penyelidikan terkait proyek renovasi tersebut, termasuk soal pembengkakan biaya dan pernyataan Powell di Kongres.
Bagi pendukung Powell, langkah ini dinilai berbahaya karena bisa dibaca sebagai tekanan hukum terhadap Ketua The Fed.
Pada akhirnya, DOJ menutup penyelidikan terhadap Powell pada 24 April 2026. U.S. Attorney Jeanine Pirro mengatakan perkara tersebut akan diserahkan kepada pengawas internal The Fed untuk menelaah pembengkakan biaya renovasi.
Melansri dari Reuters, keputusan itu ikut membuka jalan bagi proses konfirmasi Kevin Warsh, calon pengganti Powell yang diusulkan Trump. Sebelumnya, proses pencalonan Warsh sempat tertahan karena sebagian senator Partai Republik enggan mendukungnya selama penyelidikan terhadap Powell masih berjalan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469088/original/050162300_1768056820-photo-grid_-_2026-01-10T214641.503.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468304/original/037132200_1767946563-SnapInsta.to_610749735_18549996940061415_8535549228643964214_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470160/original/093473700_1768198487-Web_Photo_Editor__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457851/original/077752400_1767061479-IMG_2967_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5471422/original/000633700_1768286512-IMG_3417_1_.jpeg)
