Marie Elka: "Investing in Women is Good Economics and Good Business"

7 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Marie Elka Pangestu menegaskan, meningkatkan peran perempuan di dunia kerja bukan sekadar isu kesetaraan. Hal ini juga terbukti berdampak langsung pada kinerja bisnis dan ekonomi.

Pernyataan tersebut disampaikan Marie dalam sebuah diskusi yang membahas peran perempuan di berbagai sektor industry pada Top Woman Fest 2026 atas inisiatif CNBC Indonesia, Sabtu lalu. Ia menilai, meski sudah ada kemajuan dibanding era R.A. Kartini, tantangan bagi perempuan untuk mencapai posisi kepemimpinan masih besar.

Marie yang telah berkarier selama lebih dari empat dekade menyebutkan bahwa data menunjukkan bahwa perusahaan dengan kepemimpinan yang lebih beragam, termasuk perempuan, cenderung memiliki performa lebih baik. "Investing in women is good economics and good business," ujarnya, dikutip Kamis (20/4/2026).

Ia menjelaskan, secara empiris perusahaan yang memiliki representasi perempuan di level direksi mencatat profit lebih tinggi, tingkat kepatuhan dan keselamatan kerja yang lebih baik, serta memiliki orientasi jangka panjang yang lebih kuat. Menurutnya, perempuan dalam posisi strategis cenderung tidak hanya fokus pada keuntungan jangka pendek, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan bisnis, riset, hingga pengembangan inovasi.

Meski demikian, data di Indonesia menunjukkan partisipasi perempuan di level pimpinan masih rendah. Marie mengungkapkan, hanya sekitar 4% CEO di perusahaan yang tercatat di bursa merupakan perempuan.

"Bahkan, hampir separuh perusahaan tidak memiliki perempuan di posisi kepemimpinan, artinya dari sisi tenaga kerja, tingkat partisipasi perempuan juga baru sekitar 56%, jauh di bawah laki-laki yang mencapai sekitar 85%," ungkap mantan menteri perdagangan itu.

Artinya, lanjutnya, potensi sumber daya manusia perempuan belum dimanfaatkan secara optimal dalam perekonomian nasional. Marie juga memaparkan ada empat hambatan utama yang membuat perempuan sulit naik ke posisi puncak.

Pertama adalah beban care economy, di mana perempuan masih menanggung tanggung jawab besar dalam mengurus keluarga. Ia menyebut, perempuan rata-rata menghabiskan lebih dari 13 jam per hari untuk pekerjaan domestik, jauh lebih tinggi dibanding laki-laki.

"Kedua, itu yang disebut mentor. Perempuan tidak hanya membutuhkan mentor, tetapi juga sponsor yang benar-benar mendorong mereka naik ke level lebih tinggi," katanya.

Ketiga adalah terbatasnya pipeline kepemimpinan, di mana perempuan belum banyak disiapkan sejak level menengah untuk naik ke posisi strategis. Sementara hambatan keempat berasal dari norma budaya yang masih mempengaruhi persepsi terhadap peran perempuan di dunia kerja.

Selain itu, Marie juga menyoroti tantangan di era digital. Ia menilai perempuan masih cenderung kurang percaya diri dalam memanfaatkan teknologi, sehingga membutuhkan perhatian khusus dalam peningkatan kapasitas digital.

Perusahaan diharapkan dapat menyediakan dukungan terhadap kebutuhan perempuan, termasuk kebijakan kerja yang fleksibel dan pengembangan karier. Sementara pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang mendorong ekosistem kerja yang lebih inklusif.

"Jadi kalau mau ditanya 'then what needs to be done on all four itu mungkin bisa ditanyakan ke masing-masing, tapi intinya semua berperan ya, dunia usaha, pemerintah dan masyarakat," katanya. "Semua pihak harus berperan, termasuk keluarga dan masyarakat,".

Ia menegaskan, memperkuat peran perempuan bukan hanya soal keadilan. Tetapi, tegasnya, juga strategi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Read Entire Article
Photo View |