Percepatan Energi Hijau sebagai Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi RI

3 hours ago 5

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Selama beberapa dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia bertumpu pada tiga pilar utama: konsumsi domestik, ekspor komoditas, dan pembangunan infrastruktur konvensional. Model ini terbukti menjaga stabilitas, tetapi mulai menunjukkan keterbatasan ketika dunia memasuki fase transformasi besar yang dipicu perubahan iklim, revolusi teknologi, dan pergeseran geopolitik energi.

Dalam ekonomi global yang semakin berorientasi pada dekarbonisasi, negara yang mampu menjadikan transisi energi sebagai strategi pertumbuhan akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan. Dalam konteks ini, pembangunan energi surya dalam skala sangat besar harus dilihat bukan hanya sebagai agenda transisi, tetapi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru.

Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan hingga 100 gigawatt (GW) pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dalam waktu sekitar dua tahun. Jika terealisasi, program ini akan menjadi salah satu proyek energi terbesar dalam sejarah Indonesia, bahkan global. Karena skalanya besar dan waktunya singkat, dampaknya tidak lagi gradual, melainkan berpotensi menjadi shock investasi yang mempercepat pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

Dengan asumsi biaya pembangunan PLTS utilitas berada di kisaran USD 900 ribu hingga USD 1 juta per megawatt (MWp), kebutuhan investasi untuk 100 GW diperkirakan mencapai sekitar USD 100 miliar. Selain itu juga direncanakan dibangun penyimpanan daya Battery Energy Storage System (BESS) sebesar 320 GWh untuk mendukung keandalan PLTS itu. Dengan asumsi investasi per MWh BESS ialah USD 300,000 maka diperlukan kurang lebih USD 100 miliar untuk 320 GWh BESS.

Namun sistem surya tidak berdiri sendiri. Masih dibutuhkan tambahan investasi untuk penguatan jaringan transmisi dan pembangunan industri pendukung seperti komponen kelistrikan. Jika biaya dukungan jaringan sekitar 25 persen serta tambahan industri sekitar USD 30 miliar, maka total investasi untuk program ini dapat mencapai kisaran USD 255 miliar.

Jika direalisasikan dalam dua tahun, rata-rata investasi tahunan bisa melampaui USD 127,5 miliar, setara sekitar 9.1 % PDB Indonesia per tahun. Dalam perspektif makro, ini merupakan shock investasi yang sangat besar.

Dalam teori ekonomi pembangunan, investasi skala besar menghasilkan efek berganda lintas sektor. Pembangunan pembangkit memicu aktivitas di sektor konstruksi, jasa keuangan, manufaktur, logistik, teknologi, dan tenaga kerja. Studi berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa proyek energi dan infrastruktur memiliki multiplier effect antara 1,6 hingga 1,9.

Dengan asumsi multiplier konservatif sebesar 1,7 , dampak ekonomi dari investasi sekitar USD 255 miliar dapat mendekati USD 433,5 miliar. Jika terjadi dalam dua tahun, tambahan aktivitas ekonomi tahunan dapat mencapai lebih dari USD 216 miliar. Dengan PDB sekitar USD 1,4 triliun, angka ini setara lebih dari 15,5 % PDB Indonesia per tahun, sehingga menjadi salah satu stimulus ekonomi terbesar dalam sejarah nasional.

Untuk mengukur dampaknya terhadap pertumbuhan, pendekatan ICOR digunakan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ICOR Indonesia berada di kisaran 6,33 hingga 6,5. Dengan asumsi moderat ICOR 6,4 serta dengan investasi tahunan sekitar 9,1% PDB, maka tambahan pertumbuhan dari pembentukan modal langsung berada di kisaran 1,42 %.

Namun dalam proyek energi skala besar, dampaknya melampaui pembentukan modal. Masuknya foreign direct investment, tumbuhnya industri panel dan baterai, penciptaan green jobs, serta penurunan biaya energi industri dapat memperbesar efek tersebut secara signifikan. Masuknya FDI menjadi faktor kunci. Proyek energi terbarukan dalam skala ratusan gigawatt sangat diminati investor global karena arus kas jangka panjang yang stabil dan sejalan dengan agenda dekarbonisasi.

Jika sekitar 60 % investasi berasal dari modal asing, maka potensi FDI dapat mencapai USD150-153 miliar dalam waktu singkat. Arus ini tidak hanya memperkuat sektor energi, tetapi juga memperdalam pasar keuangan domestik, meningkatkan kapasitas industri, dan mempercepat pembangunan infrastruktur energi.

Selain pembangkit, pembangunan 100 GW PLTS turut menciptakan permintaan besar terhadap panel, baterai, kabel, struktur baja, inverter, dan komponen kelistrikan lain. Permintaan dalam skala ini akan mendorong investor membangun fasilitas produksi dalam negeri, terutama jika didukung kebijakan industrialisasi yang konsisten. Dengan cadangan nikel besar dan program hilirisasi yang berjalan, Indonesia berpeluang menjadi pusat industri baterai dan energi bersih di kawasan.

Penciptaan green jobs menjadi dampak nyata. Pembangunan skala besar membutuhkan tenaga kerja pada tahap konstruksi, operasi, pemeliharaan, serta industri pendukung. Dalam jangka panjang, transisi energi dapat menjadi sumber pertumbuhan lapangan kerja yang lebih berkelanjutan sekaligus meningkatkan kualitas tenaga kerja melalui kebutuhan keterampilan teknologi yang lebih tinggi.

Dampak lain adalah penurunan biaya energi jangka panjang. Energi surya memiliki biaya produksi rendah setelah instalasi, sehingga dapat menurunkan biaya listrik industri dan meningkatkan daya saing ekspor. Dalam konteks global yang semakin menerapkan standar karbon, penggunaan energi bersih juga menjadi faktor penting menjaga akses pasar internasional. Dengan demikian, transisi energi menciptakan pertumbuhan melalui investasi, produktivitas, industrialisasi, dan ekspor.

Jika seluruh efek ini digabungkan, pembangunan 100 GW PLTS dan 320 GWH BESS dalam dua tahun berpotensi menambah pertumbuhan ekonomi sekitar 1.5% - 2 % per tahun. Artinya, jika pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5% per tahun, maka program ini dapat mendorongnya menuju 6.5% - 7 %.

Sangat jarang ada satu program yang secara simultan menciptakan pembentukan modal besar, menarik FDI, memperluas industri domestik, dan menurunkan biaya energi. Karena itu, pembangunan energi surya skala raksasa harus diposisikan sebagai strategi pertumbuhan nasional.

Namun potensi besar ini menuntut kesiapan kelembagaan. Ekspansi cepat akan berdampak pada kebutuhan investasi jaringan, distribusi, storage, dan struktur pembiayaan. Peran PLN menjadi sangat krusial karena seluruh kapasitas harus terintegrasi dalam sistemnya.

Tanpa penguatan permodalan, percepatan ini berisiko menekan neraca PLN melalui kewajiban pembelian listrik jangka panjang dan kebutuhan investasi jaringan. Karena itu, percepatan harus diiringi reformasi pembiayaan, skema blended finance, peningkatan peran swasta, serta dukungan lembaga keuangan internasional.
Jika tantangan pembiayaan, jaringan, dan tata kelola dapat diatasi, pembangunan energi surya skala besar berpotensi menjadi titik balik ekonomi Indonesia.

Program ini dapat menarik investasi global besar, mempercepat industrialisasi energi bersih, menciptakan green jobs luas, dan meningkatkan daya saing industri melalui biaya energi yang lebih rendah. Pemerintah perlu memastikan eksekusi berjalan konsisten, regulasi memberikan kepastian, dan integrasi industri diperkuat agar percepatan energi hijau benar benar menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan dan inklusif.


(miq/miq)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |