Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara terkait dengan pelemahan nilai tukar rupiah hari ini, Senin (9/3/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terdepresiasi sebesar 0,31% ke level US$ 16.953 per dolar AS pada pukul 14:14 WIB.
Pagi ini, dari data Refinitiv, mata uang Garuda dibuka terdepresiasi sebesar 0,47% ke posisi Rp16.980/US$. Purbaya menuturkan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen ekonom yang mengatakan Indonesia mengalami resesi.
"Rupiah Rp 17.000 karena sebagian ekonom bilang katanya kita lagi resesi, seperti 97-98 lagi. Begitulah, daya beli sudah hancur," kata Purbaya saat ditemui pewarta di Tanah Abang.
Purbaya membantah tidak seperti itu, ekonomi sedang ekspansi dan daya beli dijaga 'mati-matian'.
"Jangankan krisis resesi saja belum. Melambat saja belum. Kita masih ekspansi, masih akselerasi," tegasnya.
Dengan demikian, dia menuturkan investor saham tidak perlu takut karena fondasi ekonomi Indonesia dijaga dengan baik. Dia menambahkan pemerintah sudah tahun penyebab krisis 97-98 dan sudah menerapkan pada 2008. Buktinya pada 2008, kata Purbaya, ekonomi Indonesia tetap tumbuh saat ekonomi global jatuh.
"Jadi teman-teman tidak perlu takut, kita punya pengalaman memitigasi...yang jelas dengan pengalaman 97-98, 2008 dan 2020 kita bisa mengatasi pertumbuhan ekonominya," kata Purbaya.
(haa/haa)
Addsource on Google

















































