Rugi Adhi Karya (ADHI) Bengkak Jadi Rp 5,4 Triliun Sepanjang 2025

2 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - PT. Adhi karya (Persero) Tbk. (ADHI) mencatat, rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sepanjang tahun 2025 membengkak jadi Rp 5,4 triliun dari tahun 2024 yang sebesar Rp 60,09 miliar.

Kerugian ini seluruhnya berasal dari pembukuan biaya non-operasional. Biaya non-operasional tersebut merupakan hasil dari tiga langkah penyehatan yang dilakukan serentak.

Manajemen menilai, penyesuaian nilai wajar aset Perusahaan seiring program penyehatan BUMN Karya dari Danantara. Penyesuaian ini berdampak dominan pada dua anak perusahaan properti, yaitu Adhi Persada Properti dan Adhi Commuter Properti.

Mengutip laporan keuangannya yang disampaikan melalui keterbukan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), meningkatnya kerugian ADHI karena turunnya pendapatan usaha sepanjang tahun 2025 dari Rp 13,35 triliun menjadi Rp 9,66 triliun.

Beban pokok pendapatan juga turun dari Rp 11,7 triliun menjadi Rp 8,6 triliun. Sehingga, laba bruto ADHI menurun jadi Rp 1,04 triliun dari tahun 2024 yang sebesar Rp1,62 triliun.

Selanjutnya dikurangi total beban usaha yang sebesar Rp 870 miliar, maka laba usaha Adhi sepanjang tahun 2025 menjadi Rp 17,4 miliar.

Adapun pos beban usha terdiri dari, beban penjualan ADHI turun jadi Rp 10,6 miliar, dan bean umum administrasi turun jadi 869,3 miliar.

Tercatat, meskipun ADHI mencatat laba ventura bersama yang turun jadi 466,5 miliar, namun ada kerugian entitas asosiasi dari yang sebelumnya laba 2,3 miliar jadi berbalik rugi 115,2 miliarr.

Selanjutnya, dikurangi beban keuangan yang sebesar Rp 865,3 miliar, dan beban lainya yang membengkak jadi Rp 5,04 triliun, serta beban pajak final yang turun jadi Rp 235,1 miliar, maka rugi sebelum pajak menjadi Rp 5,6 triliun dari sebelumnya Rp 34,4 triliun.

Adapun total aset ADHI sepanjang tahun 2025 berkurang menjadi Rp 28,7 triliun dari aset 2024 yangs ebesar Rp 34,6 triliun.

Sampai dengan 31 Desember 2025, ADHI mencatat perolehan kontrak baru sebesar Rp18,1 triliun. Berdasarkan lini bisnis perolehan kontrak baru terdiri dari 91% engineering & konstruksi, 5% manufaktur, 3% properti & hospitality, dan 1% investasi & konsesi.

Berdasarkan tipe pekerjaan, 43% pekerjaan Gedung, 15% infrastruktur Sumber Daya Air, 14% Jalan & Jembatan, dan sisanya lainnya.

Sementara, berdasarkan sumber pendanaan 69% pemerintah, 23% BUMN, dan sisanya swasta.

Total produksi ADHI di sepanjang tahun 2025 senilai Rp16,6 triliun yang langsung dibukukan sebagai pendapatan usaha Non JO sebesar Rp9,7 Triliun dan sisanya tercermin dari Laba JO sebesar Rp462 miliar.

Kontribusi terbesar pendapatan usaha ADHI berasal dari proyek infrastruktur seperti proyek
Jalan Tol Yogyakarta-Bawen, Jalan Tol Yogyakarta-Solo-Kulon Progo, dan proyek PUSRI III-B.

Meskipun mencatatkan penyesuaian nilai, Perseroan memiliki beberapa pondasi untuk pemulihan. ADHI masih memiliki piutang atas beberapa proyek besar yakni LRT Jabodebek dan piutang atas proyek Tol Aceh - Sigli.

Realisasi piutang-piutang ini diharapkan berdampak langsung pada penerimaan
kas Perseroan.

ADHI juga memiliki pipeline proyek di berbagai segmen infrastruktur dan secara konsisten
menempatkan fokus pada hilirisasi dan green construction. Perseroan menjadi kontraktor pelaksana proyek hilirisasi antara lain PUSRI IIIB, Pembangunan Coal Handling ICB PTBA, dan PLTMG Tobelo.

Selain itu, ADHI terlibat dalam proyek green construction, seperti pengembangan pengelolaan lingkungan FPLT Kawasan Industri di Medan, yang membuka akses ke proyek-proyek infrastruktur yang mengutamakan aspek keberlanjutan.

Di tahun 2026, pertumbuhan pasar konstruksi diperkirakan didorong oleh belanja Kementerian Pekerjaan Umum dan capital expenditure anak perusahaan Danantara. Danantara sebagai pemegang saham mayoritas terus berkoordinasi dengan Perseroan dalam kerangka penyehatan BUMN Karya.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |