Jakarta, CNBC Indonesia - Perubahan perilaku masyarakat Indonesia mulai terlihat dari data konsumsi gula. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penurunan konsumsi gula rumah tangga dan per kapita, yang mengindikasikan pergeseran pola konsumsi masyarakat.
Wakil Kepala BPS Sonny Harry Budiutomo Harmadi mengungkapkan, tren ini terlihat dari data terbaru tahun 2025. Ia mengatakan, konsumsi gula rumah tangga secara nasional mencapai sekitar 1,4 juta ton.
"Data tahun 2025 menunjukkan bahwa total konsumsi rumah tangga untuk gula mencapai 1,4 juta ton, hampir 1,5 juta ton," ungkap Sonny dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Namun, porsi konsumsi rumah tangga ternyata relatif kecil dibanding total penggunaan gula nasional. Ia menjelaskan, konsumsi rumah tangga hanya mencakup sekitar 23,13% dari total konsumsi gula di Indonesia.
"Kita bisa lihat juga bahwa penggunaan gula untuk industri pengolahan mencapai hampir 3,9 juta ton. Lalu kemudian, horeka yang terdiri dari hotel, restoran, dan katering itu mencapai 970 ribu lebih ton. Lalu kemudian, untuk jasa-jasa SPPG dan seterusnya," jelasnya.
Secara keseluruhan, total penggunaan gula nasional pada 2025 mencapai lebih dari 6,3 juta ton.
"Jadi secara total volume penggunaan gula tahun 2025 mencapai angka 6.330.690 ton secara nasional. Yang menarik, konsumsi gula kita cenderung turun dari waktu ke waktu, termasuk konsumsi per kapitanya," beber dia.
Penurunan ini semakin terlihat dari sisi konsumsi rumah tangga terkini maupun konsumsi per kapita masyarakat.
"Jadi saat ini konsumsi gula oleh rumah tangga hanya 1,46 juta ton turun dari tahun-tahun sebelumnya. Lalu kemudian bagaimana dengan tren konsumsi per kapita. Konsumsi per kapita kita juga turun menjadi 5,15 kilogram per kapita per tahun, ini untuk gula," ujarnya.
Menurut Sonny, tren penurunan ini juga terjadi pada komoditas lain seperti garam, yang memperkuat indikasi adanya perubahan pola hidup masyarakat.
"Apakah ini konsisten dengan konsumsi yang lainnya? Konsisten, termasuk dengan garam. Karena konsumsi garam per kapita juga turun dibanding sebelumnya. Jadi Bapak/Ibu sekalian kita bisa melihat ada dua kemungkinan," ucap dia.
Ia menyebutkan, ada dua faktor utama yang mendorong perubahan tersebut. Pertama, meningkatnya kesadaran masyarakat untuk hidup lebih sehat. Kedua, pergeseran pola konsumsi ke makanan jadi.
"Sehingga mereka tidak membeli gula dan garam secara langsung, tetapi menggunakan makanan jadi yang dihasilkan baik oleh industri maupun oleh restoran," jelasnya.
Sementara dari sisi pasokan, produksi gula nasional justru menunjukkan peningkatan pada tahun 2025. Hal ini ditopang oleh kenaikan luas panen tebu di sejumlah daerah.
"Produksi gula pada tahun 2025 mencapai 2,67 juta ton. Produksi ini naik dari tahun sebelumnya, tahun 2024 yang hanya sekitar 2,47 juta ton. Salah satu penopang dari kenaikan produksi gula pada tahun 2025 adalah kenaikan luas panen dari tebu kita," kata Sonny.
Adapun sentra produksi tebu, kata Sonny, masih terkonsentrasi di sejumlah provinsi seperti Jawa Timur, Lampung, Jawa Tengah, Sumatra Selatan, Jawa Barat, dan beberapa provinsi sentra tebu lainnya.
"Jadi total pada tahun 2025 luas panen tebu kita mencapai 563 ribu hektar, naik dari tahun 2024 yang hanya mencapai 521 ribu hektar. Tentunya ini atas kerja keras arahkan Bapak Presiden (Prabowo Subianto), tim dari kementerian bekerja secara kolaboratif," pungkasnya.
Foto: Konsumsi gula Indonsia tahun 2025, sumber: paparan BPS dalam rapat kerja pemerintah Komisi VI DPR RI, Rabu (8/4/2026). (Tangkapan layar Youtube TVR Parlemen)
Konsumsi gula Indonsia tahun 2025, sumber: paparan BPS dalam rapat kerja pemerintah Komisi VI DPR RI, Rabu (8/4/2026). (Tangkapan layar Youtube TVR Parlemen)
(dce)
[Gambas:Video CNBC]















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452570/original/017450600_1766406793-IMG_2730_1_.jpeg)