Dilindas China, Industri Mobil Jepang di Ambang Kiamat

5 hours ago 5

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

10 April 2026 12:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri otomotif Jepang yang mendominasi selama puluhan tahun di pasar global, kini menghadapi tekanan yang serius. Tekanan ini terjadi karena tingginya tarif perdagangan, adanya disrupsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV), dan lonjakan biaya produksi.

Hal tersebut berdampak pada perusahaan raksasa seperti Honda dan Nissan, yang dalam fase paling rentan dalam beberapa dekade terakhir. Bahkan, untuk pertama kalinya sejak 1957, Honda diproyeksikan mencatatkan kerugian bersih.

Tarif Perdagangan dan Erosi Daya Saing

Daya saing produsen mobil Jepang terus melemah, baik di pasar global maupun regional. Pengenaan tarif impor sebesar 25% oleh Amerika Serikat telah menggerus margin keuntungan, terutama di pasar ekspor utama. Di saat yang sama, Nissan terpaksa menjalankan restrukturisasi besar dengan rencana penutupan tujuh pabrik hingga 2028.

Namun tekanan paling signifikan datang dari penurunan pangsa pasar. Secara global, dominasi produsen Jepang turun dari 31% pada 2019 menjadi sekitar 26% pada 2025.

Asia sebagai pasar penjualan utama, juga mengalami penurunan yang tajam. Penjualan di China merosot drastis, sementara pangsa pasar di Asia Tenggara turun dari 68% menjadi 57% hanya dalam dua tahun. Kondisi ini mencerminkan hilangnya keunggulan kompetitif di pasar yang sebelumnya dikuasai.

Disrupsi EV dan Keterlambatan Adaptasi

Akar permasalahan industri otomotif Jepang terletak pada keterlambatan dalam mengantisipasi pergeseran menuju kendaraan listrik. Produsen Jepang cenderung mempertahankan fokus pada teknologi hybrid dan hidrogen, yang dianggap lebih selaras dengan infrastruktur produksi berbasis mesin konvensional.

Namun, perkembangan pasar menunjukkan arah berbeda. Penetrasi EV global melonjak dari 3% pada 2019 menjadi sekitar 26% pada 2025, dengan pertumbuhan tercepat terjadi di Asia. Produsen China seperti BYD menjadi pemain dominan berkat inovasi cepat dan skala produksi yang agresif.

Jenis kendaraan yang diproduksi perusahaan JepangFoto: Economist
Jenis kendaraan yang diproduksi perusahaan Jepang

Selain itu, transformasi industri juga mencakup pergeseran menuju kendaraan berbasis software. Mobil modern kini bergantung pada sistem seperti Autonomous Driving dan Advanced Driver Assistance Systems (ADAS), bidang dimana produsen Jepang masih tertinggal.

Jepang berupaya mengejar ketertinggalannya melalui kerja sama seperti Nissan dengan Wayve, sebuah perusahaan rintisan Inggris yang mengembangkan teknologi swakemudi, untuk meningkatkan ADAS.

Namun, efektivitas strategi ini masih dipertanyakan. Di sisi lain, Honda justru membatalkan proyek kendaraan listrik bersama Sony. Menurut Ken Shibusawa dari Commons Asset Management, yang baru-baru ini melepas kepemilikan saham Honda setelah mendukung perusahaan tersebut selama 17 tahun, kolaborasi antara dua perusahaan besar dengan karakter yang sama-sama kuat kerap menghadapi hambatan dalam eksekusi.

Di tengah kebutuhan investasi besar untuk elektrifikasi dan digitalisasi, struktur biaya industri meningkat tajam. Biaya tetap per unit dilaporkan naik hingga 78% dalam satu dekade terakhir, dipicu oleh belanja riset dan pengembangan serta investasi teknologi baru. Kenaikan upah dan kondisi pasar tenaga kerja di Jepang turut mempersempit ruang efisiensi.

Masalahnya, peningkatan biaya ini tidak diimbangi dengan pemulihan penjualan yang kuat. Volume penjualan masih berada di bawah level pra-pandemi, sehingga margin keuntungan tertekan.

Di tengah tekanan industri, Toyota menjadi pengecualian. Posisi kuatnya sebagai pemimpin global kendaraan hybrid dengan pangsa pasar sekitar 40% membuatnya diuntungkan oleh perubahan kebijakan di Amerika Serikat yang mengurangi dukungan terhadap EV. Toyota berkolaborasi dengan BYD dan Huawei, untuk mempertahankan pangsa pasar yang stabil di China, sekaligus menyiapkan ekspansi kendaraan listrik untuk beberapa tahun kedepan.

Merger Gagal, Industri Cari Jalan Lain

Di tengah tekanan yang semakin besar, wacana konsolidasi industri otomotif Jepang kembali mencuat sebagai upaya bertahan di pasar global. Pembicaraan merger antara Honda dan Nissan pada akhir 2024 sempat membuka peluang terbentuknya raksasa otomotif baru, namun gagal terealisasi.

Tantangan utama terletak pada tumpang tindih produk dan kompleksitas integrasi produksi yang justru berpotensi mengurangi efisiensi. Di sisi lain, Toyota lebih memilih memperkuat pengaruh melalui kepemilikan minoritas dibanding akuisisi besar.

Sebagai alternatif, kolaborasi yang lebih fleksibel mulai ditempuh, seperti pengadaan bersama dan integrasi rantai pasok, meski ke depan industri ini tetap membutuhkan strategi yang lebih berani untuk bertahan.

(mae/mae)

Read Entire Article
Photo View |