Jakarta, CNBC Indonesia - Tren warteg kekinian dengan konsep estetik sudah dimulai sejak beberapa tahun terakhir. Antara lain jaringan 'Rumanasi' yang memiliki cabang di Cikajang dan Puri Indah, 'Cahaya Selatan' di Panglima Polim yang lebih fokus menyajikan citarasa Chinese food, dan 'Luwe' di Cikajang dengan konsep etalase kaca ala warteg untuk memajang beragam lauk.
Saat memasukkan kata kunci "warteg kekinian Jakarta" di media sosial, langsung terpampang beragam konten viral yang mempromosikan warteg gaya modern.
Terbaru, muncul pula restoran premium dengan meminjam konsep warteg, yakni 'Salira' di bilangan Senopati, Jakarta Selatan. Harganya jauh lebih tinggi, dengan demografi pengunjung kelas menengah-atas.
Foto: Kartini Bohang
Rumah Makan Salira, mengusung konsep ala warteg dengan harga dan nuansa premium.
Konten-konten terkait restoran baru yang dibuka jaringan F&B Union Group ini mulai sering terlihat di FYP (for your page) media sosial. Beberapa konten melabelinya sebagai warteg 'fancy'.
Baca Bagian Pertama >> Viral Warteg 'Fancy' di Jaksel, Sekali Makan Bayar Rp 800.000.
Di saat bersamaan, warteg tradisional tengah menghadapi tekanan bertubi-tubi. Sekitar 25.000 warteg gulung tikar di wilayah Jabodetabek sejak pandemi Covid-19 hingga pertengahan 2025, menurut data Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara).
Kondisi ekonomi yang terimbas perang di Timur Tengah juga berdampak pada kelangsungan bisnis warteg tradisional yang mengedepankan inklusivitas pangan bagi kaum buruh dan kelas menengah-bawah.
Dilema Warteg Tradisional: Lonjakan Harga Plastik dan WFH ASN
Lonjakan harga minyak turut menghantam produk-produk turunan yang menggunakan minyak sebagai bahan pembuatan produk, termasuk resin atau bijih plastik.
Ketua Koordinator Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni, mengatakan harga plastik kemasan ukuran 15cm sudah naik dari Rp10.000 menjadi Rp14.000. Hal ini menjadi tantangan serius bagi ekosistem usaha warteg konvensional, sebab model bisnisnya sangat bergantung pada budaya bungkus (take-away).
"Warteg [konvensional] dikenal dengan harga yang merakyat. Ketika biaya variabel seperti kantong plastik, mika, dan styrofoam naik, pemilik warteg berada pada posisi sulit," kata Mukroni kepada CNBC Indonesia, Kamis (9/4/2026).
Di satu sisi, menaikkan harga makanan berisiko membuat pelanggan warteg konvensional pindah ke alternatif lain. Namun, jika harus menanggung biaya kenaikan plastik sendiri, keuntungan yang sudah tipis akan makin terpangkas.
Belum lagi kebijakan Work From Home (WFH) yang diterapkan pemerintah untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap Jumat mulai 1 April 2026. Penerapan WFH bagi ASN lagi-lagi merupakan respons atas gejolak harga energi global yang ditimbulkan perang di Timur Tengah.
Bagi warteg-warteg yang berlokasi di area perkantoran pemerintahan atau pusat kota, volume pelanggan harian dan perputaran uang yang cepat menjadi tumpuan. ASN merupakan salah satu pangsa pasar utama warteg. Berkurangnya aktivitas kantor berpotensi mengilangkan waktu puncak penjualan bagi warteg.
"Kehilangan 'Prime Time', yakni jam makan siang, adalah sumber pendapatan terbesar [bagi warteg]. Jika kantor sepi selama 3 hari dalam seminggu, potensi pendapatan harian bisa anjlok 50%-70%." ia menjelaskan.
Warteg Fancy di Mata Pedagang Warteg Tradisional
Terkait kemunculan warteg kekinian-fancy, Mukroni mengatakan untuk saat ini belum memberikan dampak serius bagi kelangsungan warteg tradisional. Pasalnya, warteg kekinian-fancy dan konvensional dinilai memiliki segmen pelanggannya masing-masing.
"Misalnya, warteg fancy pelanggannya orang kantoran [kelas menengah-atas], sementara warteg tradisional lebih menyasar para sopir, ojol (ojek online), dan pedagang asongan," ujar Mukroni.
Beberapa warteg kekinian juga tergabung sebagai anggota Kowantara. Mukroni mengatakan biasanya para pengusaha warteg kekinian meminta izin sebelum membangun warteg, sehingga tidak berdekatan dengan warteg tradisional.
"Sebenarnya untuk warteg [kekinian dan] fancy, Kowantara tidak keberatan selama posisinya tidak berdiri dekat dengan warteg konvensional yang sudah ada. Kalau tiba-tiba berdekatan dan jadi saingan, itu yang jadi masalah," Mukroni menjelaskan.
Berdasarkan data keanggotaan Kowantara di area Jakarta, mayoritas warteg anggota berada di Jakarta Selatan (199), kemudian Jakarta Timur (95), Jakarta Barat (54), Jakarta Utara (46), dan paling sedikit di Jakarta Pusat (17).
Warteg Fancy Tidak Bisa Gantikan Warteg Tradisional
Research Director di Center for Study Indonesian Food Anthropology, Repa Kustipia, menilai dampak warteg fancy terhadap eksistensi warteg tradisional dan waralaba warteg tidak begitu mengejutkan.
Pasalnya, kekuatan warteg dan warung-warung sederhana seperti warkop, warung nasi padang, dan warung sunda, terletak pada loyalitas pelanggan. Repa tak memungkiri ada efek kejut berupa antusiasme saat warteg fancy ini baru dibuka.
"Biasalah itu dalam merebut pasar. Namun, konsistensi warteg biasa lebih takut sama warteg yang lebih sederhana, lebih murah, lebih banyak. Itu psikologis warteg sebenarnya," kata Repa kepada CNBC Indonesia.
Dalam monografi 'Fenomena Warteg' yang dirilis Repa, ia menuliskan "warteg tumbuh di ibu kota karena murah, bercita rasa rumahan, mudah dikelola, dan didukung jaringan sosial perantau Tegal, menjadikannya solusi makan bagi masyarakat urban berpenghasilan rendah".
Sejalan, Peneliti Budaya Popular, Hikmat Darmawan, mengatakan tidak mungkin warteg tradisional tergusur oleh kemunculan warteg fancy. Pasalnya, ekonomi kelas bawah selalu menjadi penyangga di saat krisis.
"Bukan karena [warteg tradisional] murah dan mudah diakses, tetapi krisis atau tidak krisis, ekonomi kelas bawah peredarannya sangat besar," ia menuturkan.
Hikmat mengatakan ekonomi kelas bawah selalu menjadi penyangga dan penyelamat saat situasi sedang tidak baik-baik saja. Contoh sederhananya ketika seseorang kena PHK, kemudian gaya hidupnya harus menurun. "Orang tersebut tetap harus makan, dan warteg tradisional menjadi penopang," kata Hikmat.
Pertanyaan berikutnya, apakah warteg fancy ini cukup solid untuk terus bertahan?
Repa mengatakan daya tahan warteg fancy harus dilihat dari data kunjungan: apakah pengunjungnya berasal dari kalangan inklusif dan publik, atau semacam restoran viral pada umumnya. Jika cenderung ke opsi kedua, ia memprediksi kekuatan warteg fancy tak akan lama.
"Maksimum kalau tetap buka bisa 5 tahun lebih, tapi kalau di 8 bulan pertama sudah menurun dan sepi, [artinya] ada permasalahan sensitif, yaitu harga, rasa, dan porsi," kata Repa.
Selain itu, Hikmat menekankan soal ada/tidaknya segmen pasar yang memang terbentuk karena kemunculan warteg fancy.
"Misalnya makanan-makanan rumahan yang ada di hotel, mungkin buat kita kurang nendang rasanya, tetapi itu menyesuaikan dengan lidah bule, sehingga memang ada pasarnya. Akhirnya, ini akan membagun jalur budayanya sendiri," ia menuturkan.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]
















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452570/original/017450600_1766406793-IMG_2730_1_.jpeg)