Lobi Pro-Israel di Amerika Mulai Dapat Perlawanan, Lelah Dimanfaatkan?

4 hours ago 8

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

30 March 2026 18:10

Jakarta, CNBC Indonesia Dukungan publik Amerika Serikat (AS) terhadap Israel kini melemah, dengan meningkatnya kritik dari Demokrat dan bahkan sebagian Republik, serta kekhawatiran bahwa konflik Iran lebih menguntungkan Israel dibanding Amerika.

Hampir dua dekade lalu, John Mearsheimer dan Stephen Walt menerbitkan buku "The Israel Lobby and US Foreign Policy".

Mereka berargumen bahwa sebuah koalisi longgar kelompok advokasi pro-Israel memiliki pengaruh besar dalam perdebatan kebijakan Amerika, bahkan kadang mengarahkan pengambil keputusan ke arah seperti dukungan terhadap perang Irak yang justru merugikan Amerika.

Reaksi penolakan saat itu sangat cepat, para kritikus menyebut karya tersebut lemah, naif, bahkan antisemit. Namun kini, ketika Amerika berperang bersama Israel melawan Iran, pandangan terhadap hubungan AS dan Israel mulai berubah, buku itu kembali laris.

Organisasi yang paling banyak mendapat perhatian saat ini, sama seperti dulu, yaitu American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), kelompok advokasi pro-Israel terbesar di Amerika.

Selama sekitar 70 tahun, organisasi ini berupaya memperkuat hubungan kedua negara. Seperti kelompok lobi domestik lainnya, AIPAC tidak menerima dana dari pemerintah asing, termasuk Israel.

Sebaliknya, mereka bergantung pada donasi warga Amerika, banyak di antaranya adalah komunitas Yahudi. Organisasi ini sangat efektif, secara rutin menarik tokoh-tokoh senior dari Partai Demokrat dan Republik ke konferensinya. Namun, seiring perubahan sikap publik Amerika, strategi AIPAC juga berubah dengan risiko yang justru merugikan tujuan mereka sendiri.

Dukungan publik ke IsraelFoto: The Economist
Dukungan publik ke Israel

Dukungan Amerika terhadap Israel selama ini merupakan kesepakatan bipartisan. Namun ketika pemerintahan Israel bergerak semakin ke kanan di bawah Binyamin Netanyahu, Partai Demokrat menjadi semakin kritis dengan tren yang semakin cepat sejak perang di Gaza.

Baru-baru ini, Partai Republik juga mulai meninjau kembali hubungan tersebut, dengan sebagian melihatnya tidak sejalan dengan prinsip "America First". Persentase warga Amerika yang memandang Israel secara positif telah menurun dalam beberapa tahun terakhir, bahkan mencapai titik terendah dalam hampir 40 tahun pada Februari, menurut Gallup.

Perang dengan Iran tidak membantu. Awal bulan ini, Joe Kent mengundurkan diri sebagai kepala National Counterterrorism Centre, dengan klaim bahwa Donald Trump telah ditipu untuk memulai perang oleh "Israel dan lobi kuatnya di Amerika".

Kekhawatiran ini juga dirasakan publik. Survei terbaru Economist/YouGov menunjukkan bahwa mayoritas warga Amerika percaya Israel akan diuntungkan dari perang ini, sementara Amerika justru akan dirugikan. Satu dari tiga responden menyatakan bahwa lobi pro-Israel memiliki pengaruh terlalu besar terhadap pemerintah.

Sementara itu, AIPAC mengubah pendekatannya. AIPAC khawatir dengan terpilihnya sejumlah kritikus keras Israel pada 2018, organisasi ini mulai masuk lebih agresif ke politik elektoral, tidak hanya mempengaruhi bagaimana anggota parlemen memilih, tetapi juga siapa yang terpilih.

Pada 2022, mereka meluncurkan United Democracy Project, sebuah super PAC yang dapat menggalang dana tanpa batas. Setelah hanya menghabiskan $150.000 dalam satu dekade sebelumnya, mereka menggelontorkan $100 juta pada siklus pemilu 2022 dan 2024.

Tahun ini saja, AIPAC telah menghabiskan lebih dari US$30 juta untuk menjatuhkan para "penentang" dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat, dengan fokus pada pemilihan anggota DPR di New Jersey, North Carolina, dan Illinois.

Namun karena dukungan terhadap Israel kini menjadi isu yang diperdebatkan, mereka membentuk kelompok perantara dengan nama netral seperti "Elect Chicago Women". Iklan mereka tidak menyebut Israel. Di New Jersey, misalnya, kelompok seperti ini menyerang Tom Malinowski karena dianggap memilih "bersama Trump dan Partai Republik untuk mendanai ICE".

Taktik baru ini menghasilkan hasil yang beragam. Di Illinois, hanya dua dari empat kandidat yang didukung AIPAC menang. Seorang kandidat yang mereka dukung di North Carolina, Valerie Foushee, menolak dukungan AIPAC selama kampanye. Dan meskipun Malinowski kalah di New Jersey, seorang aktivis pro-Palestina justru memenangkan kursi tersebut.

Malinowski sendiri dianggap relatif moderat dalam isu Israel. "Mereka bersikap absolut dan itu menjadi bumerang," kata Matt Bennett dari think tank Third Way. Para tokoh petinggi Partai Demokrat mulai menolak dana dari AIPAC. Namun hal ini tampaknya tidak mengganggu organisasi tersebut.

Dalam unggahan media sosial yang merayakan kemenangan di Illinois, mereka menyatakan bahwa "mendukung Israel adalah kebijakan dan politik yang baik". Jika memang demikian, kata Lara Friedman dari lembaga think tank lain, mereka seharusnya tidak ragu menyampaikan posisi itu secara terbuka kepada pemilih.

AIPAC menyatakan bahwa "seperti banyak kelompok lainnya", mereka akan "terus menggunakan berbagai alat untuk terlibat dalam pemilu kali ini". '

Namun penggunaan kelompok perantara menempatkan mereka sejajar dengan industri seperti minyak, tembakau, dan kripto yang menggunakan taktik serupa. Risiko tambahan bagi AIPAC adalah pendekatan ini dapat memperkuat stereotip anti semit tentang pengaruh tersembunyi dalam pembuatan kebijakan di saat pandangan semacam itu justru sedang menguat.

Hubungan Amerika Serikat dan Israel Semakin Kuat, Makin Mengerikan

Hubungan Amerika Serikat dan Israel yang semakin erat juga dinilai makin agresif.

Sejak 1967, ketika Israel memperluas wilayahnya di Timur Tengah, Washington mulai melihat Tel Aviv sebagai mitra penting dalam menghadapi pengaruh global khususnya ketika Perang Dingin. Sejak saat itu, kerja sama militer kedua negara terus berkembang, baik melalui operasi terbuka maupun tertutup, hingga menjadi salah satu aliansi paling solid dalam geopolitik modern.

Dalam beberapa tahun terakhir, dukungan AS tetap kuat, bahkan meningkat. Di bawah kepemimpinan Joe Biden dan Donald Trump, Washington tetap memberikan bantuan militer besar kepada Israel di tengah konflik Gaza. Hal ini mempertegas bahwa hubungan bilateral tidak hanya bertahan, tetapi juga semakin dalam di tengah dinamika konflik kawasan.

Namun, dinamika kekuatan dalam hubungan ini mulai berubah. Jika pada masa lalu Israel masih cenderung mengikuti arahan AS seperti saat Perang Teluk 1991 ketika Presiden George H. W. Bush meminta Israel menahan diri kini posisi Israel dinilai jauh lebih kuat.

Perubahan ini mendorong hubungan yang lebih setara, bahkan membuka ruang bagi tindakan militer Israel yang lebih luas dengan dukungan atau toleransi dari Washington.

Perang yang kini melibatkan Iran menjadi gambaran paling jelas dari fase baru ini. Di bawah Benjamin Netanyahu dan Trump, konflik tidak hanya dipandang sebagai respons terhadap ancaman eksternal, tetapi juga sebagai bagian dari kepentingan strategis yang lebih besar baik untuk mempertahankan dominasi regional maupun memperkuat posisi politik domestik.

Iran sendiri tetap menjadi penantang utama bagi AS dan Israel di Timur Tengah, sehingga keterlibatan Washington dalam konflik ini dinilai bukan semata-mata karena tekanan Israel, melainkan juga sejalan dengan kepentingannya sendiri.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |