Kanthi Malikhah, CNBC Indonesia
30 March 2026 17:35
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah eskalasi konflik Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, Pakistan menawarkan diri sebagai mediator diplomatik. Didukung oleh Turki dan Mesir, Islamabad kini aktif menyampaikan pesan antara Washington dan Teheran dalam upaya mendorong gencatan senjata.
Peran ini menegaskan bahwa di balik konflik yang semakin terbuka, jalur diplomasi masih terus berjalan dan Pakistan berada di pusatnya. Keinginan Pakistan untuk menjadi mediator konflik bukan tanpa alasan. Negara ini kerap tampil sebagai pemecah kebuntuan konflik antar negara.
Sejarah Mediasi Pakistan
Peran Pakistan sebagai mediator bukanlah hal baru. Sejak lama, negara ini kerap menjadi penengah dalam konflik global, dengan memanfaatkan letak geografis dan relasi strategisnya dengan berbagai kekuatan besar.
Salah satu peristiwa paling penting terjadi pada 1971, ketika Pakistan membantu membuka komunikasi antara Amerika Serikat dan China di era Richard Nixon. Jalur diplomasi ini pada akhirnya mengubah peta geopolitik Perang Dingin dan membuka hubungan resmi Washington dan Beijing.
Pada 1980-an, Pakistan kembali menjadi mediator dalam proses yang menghasilkan Geneva Accords, yang membuka jalan bagi penarikan pasukan Soviet dari Afghanistan. Dalam periode ini, Pakistan tidak hanya bertindak sebagai mediator, tetapi juga sebagai pihak yang terlibat langsung dalam dinamika konflik.
Peran tersebut berlanjut hingga era modern. Pakistan terlibat dalam proses negosiasi antara AS dan Taliban yang berujung pada Doha Agreement 2020, serta beberapa kali mencoba menjembatani ketegangan antara Arab Saudi dan Iran. Pola ini menunjukkan bahwa diplomasi Pakistan tidak bersifat situasional, melainkan sudah menjadi bagian dari strategi jangka panjangnya.
Mediasi Amerika Serikat dan Iran
Dalam konflik terbaru Pakistan kembali mengambil peran serupa, namun dengan taruhan yang jauh lebih besar. Sejak dimulainya operasi militer AS dan Israel terhadap Iran pada awal 2026, Islamabad aktif melakukan komunikasi intensif dengan berbagai pihak.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dilaporkan menjalin kontak langsung dengan Presiden Iran, sementara petinggi militer Pakistan juga berkomunikasi dengan Donald Trump. Di saat yang sama, Menteri Luar Negeri Ishaq Dar mengonfirmasi bahwa Pakistan menjadi perantara penyampaian proposal gencatan senjata 15 poin dari AS kepada Iran.
Proses ini berlangsung secara tidak langsung pesan dari Washington disampaikan ke Teheran melalui Pakistan, dan sebaliknya. Meski Iran secara resmi menyangkal adanya negosiasi langsung, mereka tetap merespons proposal tersebut dengan alternatif versi mereka sendiri yang menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih terbuka.
Keunggulan Pakistan terletak pada posisinya yang unik. Negara ini memiliki hubungan kerja dengan AS sekaligus kedekatan geografis dan historis dengan Iran. Ditambah lagi, Pakistan juga memiliki hubungan erat dengan negara-negara Teluk, menjadikannya salah satu dari sedikit aktor yang bisa diterima oleh semua pihak dalam konflik.
Namun, peluang keberhasilan tetap tidak pasti. Perbedaan kepentingan, tuntutan dari masing-masing pihak, serta eskalasi militer yang terus berlangsung membuat proses negosiasi berjalan rapuh. Meski demikian, keberadaan Pakistan sebagai mediator setidaknya memberikan ruang bagi de-eskalasi di tengah konflik yang semakin luas.
(mae/mae)
Addsource on Google

















































