Amalia Zahira, CNBC Indonesia
06 April 2026 14:35
Jakarta, CNBC Indonesia - Produksi kayu bulat di Indonesia sepanjang 2024 menunjukkan dominasi kuat dari beberapa jenis tanaman kehutanan, terutama akasia dan kelompok rimba campuran.
Berdasarkan data produksi kayu bulat per triwulan 2024, total produksi nasional mencapai 64,83 juta m³. Dari jumlah tersebut, dua kelompok kayu mendominasi secara signifikan.
Akasia dan Rimba Campuran Mendominasi
Kelompok Rimba Campuran mencatat produksi terbesar dengan total 32,03 juta m³, atau hampir setengah dari total produksi nasional.
Kayu yang diklasifikasikan dalam Kelompok Rimba Campuran mencapai 55 jenis, sehingga menjadi wajar jika kategori ini memimpin jumlah produksi. Adapun kelompok kayu yang termasuk dalam jenis kayu rimba antara lain Kecapi, Sengon, Ekaliptus, dan Jabon.
Di posisi kedua, Akasia (Acacia) menyusul dengan produksi sebesar 27,56 juta m³.
Jika digabungkan, kedua jenis ini menyumbang lebih dari 90% total produksi kayu bulat Indonesia, menunjukkan bahwa keduanya merupakan jenis pohon yang paling banyak dibudidayakan dan dikelola dalam industri kehutanan nasional.
Kenapa Akasia Jadi Favorit?
Akasia menjadi favorit karena karakteristiknya yang unggul. Jenis ini mampu tumbuh cepat di iklim tropis dan dapat dipanen dalam waktu relatif singkat, yakni sekitar 5 hingga 6 tahun.
Selain itu, kayu akasia sangat mendukung kebutuhan industri, terutama sebagai bahan baku pulp dan kertas. Karena itu, akasia banyak dikembangkan oleh perusahaan kehutanan besar untuk memenuhi kebutuhan industri kertas dan produk turunan lainnya.
Tak hanya itu, akasia juga kerap dimanfaatkan dalam proyek reboisasi karena memiliki daya adaptasi yang baik di lahan kritis.
Jenis Lain Jauh Tertinggal
Sementara itu, jenis kayu lainnya memiliki kontribusi yang jauh lebih kecil:
Dari daftar tersebut, eboni menjadi jenis kayu dengan produksi paling rendah di Indonesia. Meski demikian, kayu ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Karakteristiknya yang kokoh, awet, serta berwarna hitam legam menjadikannya bahan baku premium untuk furnitur mewah. Nilainya kian meningkat karena faktor kelangkaan, seiring dengan pertumbuhan pohon eboni yang relatif lambat.
Di pasar global, harga rata-ratanya bahkan dapat mencapai sekitar US$7.000 hingga US$10.000 per meter kubik.
Sebagai flora endemik Sulawesi, persebarannya pun terbatas, dengan wilayah paling selatan berada di Maros, Sulawesi Selatan, serta di bagian utara mencakup Tomini dan Toli-Toli, Sulawesi Tengah.
Secara lokal, masyarakat suku Bugis mengenal eboni sebagai aju lotong, sementara suku Kaili menyebutnya moutong. Meski demikian, tanaman ini juga ditemukan tumbuh di beberapa wilayah Papua.
(mae/mae)















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452570/original/017450600_1766406793-IMG_2730_1_.jpeg)