Jakarta, CNBC Indonesia - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menyoroti pentingnya kebijakan moratorium pembangunan smelter alumina dan aluminium. Terutama, di tengah proyeksi lonjakan kebutuhan bauksit dalam beberapa tahun ke depan.
Direktur Utama Inalum Melati Sarnita mengatakan isu tersebut sempat dibahas dalam kunjungan kerja di Pontianak, Kalimantan Barat. Menurutnya, pembahasan ini berangkat dari paparan Kementerian ESDM terkait kondisi sumber daya dan cadangan bauksit nasional per 2024.
Berdasarkan data yang digunakan Inalum, cadangan terbukti bauksit Indonesia saat ini mencapai sekitar 1 miliar ton, dengan total cadangan sebesar 2,8 miliar ton.
"Dalam kesempatan kita di Kungker di Pontianak yang lalu kita sempat mengangkat isu mengenai moratorium alumina refinery dan aluminium smelter," ungkap Melati dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Selasa (31/3/2026).
"Angka-angka ini kemudian kita lakukan dalam beberapa review dan juga beberapa publikasi mengenai forecast dari kapasitas alumina refinery Indonesia untuk 10 tahun ke depannya," kata Melati.
Menurut Melati, berdasarkan data dari Wood Mackenzie dan Fastmarkets, terdapat sekitar 13 perusahaan yang berencana membangun pabrik alumina di Indonesia dalam 10 tahun ke depan.
Sementara, kapasitas terpasang alumina refinery pada 2026 diperkirakan sekitar 9 juta ton per tahun. Namun, kapasitas pabrik yang ada tersebut masih dapat berpotensi meningkat hingga 29,8 juta ton per tahun.
"Melalui angka-angka ini kami hitung kembali estimasi dari kebutuhan bauksit yang akan diperlukan untuk alumina refinery yang ada di dalam list ini," ujarnya.
Melati membeberkan untuk fasilitas refinery yang sudah ada, kebutuhan bauksit mencapai sekitar 29-36 juta ton per tahun. Adapun, jika seluruh proyek refinery beroperasi, kebutuhan dapat meningkat hingga 80-94 juta ton per tahun.
Peningkatan kapasitas ini, menurut dia, akan menambah tekanan pada cadangan bauksit Indonesia karena intensitas penggunaan dari smelter alumina refinery.
Dalam hal ini berpotensi menurunkan ketahanan cadangan bauksit terbukti dalam negeri hingga kurang dari 10 tahun pemakaian dan total cadangan bauksit hingga 28 tahun pemakaian.
"Ini menjadi concern sangat besar untuk kami karena salah satu investasi kami smelter aluminum Mempawah itu memiliki umur keekonomian 30 tahun. Berikut untuk Indonesia primary aluminum smelter forecast kapasitas," kata dia.
(wia)
Addsource on Google

















































