Amalia Zahira, CNBC Indonesia
31 March 2026 18:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berada dalam posisi yang canggung.
Di satu sisi, ia masih mendapat dukungan publik untuk melanjutkan perang. Namun secara politik domestik, koalisinya belum cukup kuat untuk menjamin kemenangan dalam pemilu mendatang.
Dukungan Publik Masih Kuat, Tapi Mulai Terkikis
Salah satu modal utama Netanyahu adalah dukungan publik terhadap konflik yang sedang berlangsung. Survei dari Israel Democracy Institute menunjukkan sekitar 68% warga Israel masih mendukung kelanjutan perang, meskipun angka ini turun dari 81% di awal konflik.
Penurunan ini mencerminkan mulai munculnya kelelahan publik, meski mayoritas masih melihat perang sebagai kebutuhan strategis.
Netanyahu mencatat beberapa keberhasilan politik penting dengan meloloskan anggaran negara pada akhir Maret, sebuah prestasi langka bagi pemerintah Israel menjelang pemilihan umum.
Ia juga mengamankan suara koalisinya dengan memberikan berbagai insentif kepada komunitas agama dan pemukim di Tepi Barat. Dengan pengesahan ini, ia dan koalisinya berpotensi akan menyelesaikan masa jabatan parlemen empat tahun penuh, sebuah hal langka lainnya.
Langkah ini memberikan dorongan politik bagi Netanyahu setelah serangan 7 Oktober 2023, yang dipandang oleh warga Israel sebagai salah satu kegagalan keamanan terburuk dalam sejarah negara mereka.
Di sisi lain, hasil jajak pendapat (polling) menunjukkan koalisi pemerintah masih berada di bawah ambang mayoritas parlemen.
Meskipun Netanyahu memimpin partai terbesar, peluangnya untuk kembali membentuk pemerintahan masih terbatas. Hal ini karena koalisinya belum mencapai mayoritas kursi di parlemen dan lemahnya dukungan terhadap partai-partai sekutunya.
Selain itu, perbedaan pandangan dalam pembahasan sejumlah undang-undang turut mencerminkan rapuhnya soliditas koalisi.
Oposisi yang Terfragmentasi Menjadi Peluang bagi Netanyahu
Netanyahu masih memiliki harapan pada kubu oposisi yang lebih terfragmentasi dibandingkan koalisinya. Hal ini semakin menguntungkan posisinya setelah salah satu partai oposisi bergabung ke dalam koalisi pemerintah pada 2024.
Sementara itu, enam partai oposisi yang masih bertahan di Knesset kesulitan untuk bekerja sama. Fragmentasi ini diperkirakan akan semakin dalam, dengan setidaknya tiga partai baru yang bersiap untuk ikut serta dalam pemilu mendatang.
Selain itu, tidak ada figur kuat yang secara konsisten muncul sebagai kandidat perdana menteri. Beberapa tokoh seperti Yair Lapid, Benny Gantz, hingga Naftali Bennett mengalami fluktuasi dukungan dalam survei.
Fragmentasi ini membuat oposisi sulit membentuk koalisi yang solid, bahkan jika mereka berhasil memenangkan mayoritas kursi.
Dalam sistem politik Israel yang berbasis proporsional, kemampuan membangun koalisi seringkali lebih menentukan dibanding sekadar kemenangan suara. Dalam hal ini, Netanyahu memiliki rekam jejak yang kuat dalam merangkul sekutu politiknya.
Netanyahu sengaja menggandeng partai-partai ekstrim kanan dan ultra-religius yang secara umum selaras dalam hal kebijakan, berbeda dengan partai-partai oposisi yang lebih bervariatif.
Oposisi Netanyahu terdiri dari nasionalis hingga Islamis konservatif dan komunis Arab. Dengan perbedaan yang signifikan antara partai ini, kemungkinan besar mereka tidak bisa memimpin pemerintahan bersama.
Nasib Politik Ditentukan oleh Hasil Perang
Bahkan jika Likud tidak mencapai mayoritas di parlemen, Netanyahu masih punya peluang mempertahankan kekuasaannya melalui manuver koalisi, terutama di tengah fragmentasi oposisi.
Namun demikian, hasil perang tetap menjadi faktor penentu bagi keberlanjutan kekuasaan tersebut.
Jika Israel berhasil meraih kemenangan yang jelas, posisi politik Netanyahu berpotensi menguat signifikan. Sebaliknya, jika konflik berakhir tanpa hasil atau justru memperkuat lawan seperti Iran, dampaknya bisa sangat merugikan secara elektoral.
Berbeda dengan pemimpin seperti Donald Trump yang memiliki fleksibilitas politik untuk mendeklarasikan kemenangan atau menghentikan perang sesuai kepentingan politiknya, Netanyahu sangat bergantung pada realitas di lapangan.
(mae/mae)
Addsource on Google

















































