Jakarta, CNBC Indonesia - Pengusaha hotel buka suara soal rencana kebijakan bekerja di rumah (work from home/WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) dan pekerja swasta demi penghematan konsumsi BBM. Hal ini merespons efek domino Perang Iran yang memanas ke Timur Tengah hingga menyebabkan kekhawatiran krisis energi global.
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan kebijakan WFH yang akan diberlakukan memiliki dampak positif dan negatif.
"Kebijakan WFH yang akan diberlakukan oleh pemerintah, sebenarnya punya dampak positif dan negatifnya ya.Karena kami juga pernah mengalami masa-masa seperti itu waktu Covid-19, yang juga ada kebijakan WFH," kata Maulana kepada CNBC Indonesia, Selasa (31/3/2026).
Dari sisi negatif, katanya, kebijakan ini akan berdampak kepada restoran di hotel, di mana biasanya tak sedikit pekerja yang mengeluarkan uangnya untuk sarapan di hotel.
"Kalau ambil contohnya pada saat Covid dulu, kita perhatikan di Bodetabek saja, itu banyak orang yang bekerja di Jakarta, berangkat pagi-pagi, sudah sampai di kantor pagi. Nah mereka biasanya spending di restoran-restoran yang menyediakan breakfast. Nah pada masa Covid kan mereka enggak bekerja ke kantor, akhirnya restoran-restoran banyak yang tutup," lanjut Maulana.
Selain itu, pertemuan-pertemuan di hotel juga akan berkurang seiring dengan adanya kebijakan WFH.
"Aktivitas daripada orang-orang bisnis itu juga. Sering mereka mengadakan pertemuan di tempat-tempat seperti restoran, kafe, dan hotel. Dengan adanya kebijakan WFH, tentu nanti akan memungkinkan terjadinya penurunan," jelas Maulana.
Namun, dari sisi positif, kebijakan WFH dapat membuat perhotelan dan restoran cenderung berinovasi agar dapat menarik pelanggan, meski tak harus berkunjung secara langsung.
"Tapi dari sisi positif, mungkin restoran dan hotel bisa meningkatkan inovasinya, seperti mungkin kalau di restoran hotel, bisa antar makanan dan minuman atau inovasi lainnya," ungkapnya.
Pihaknya masih belum mengetahui pasti dampak dari penerapan kebijakan tersebut, karena masih perlu melihat kebijakannya dan lain-lainnya.
"Tapi imbasnya seperti apa, kita kan belum tahu, kembali lagi, pasti ada dampaknya dari WFH. Apalagi kabarnya juga hanya seminggu sekali," kata Maulana.
(dce)
Addsource on Google

















































