Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita buka suara soal kenaikan harga bahan baku plastik yang membuat pelaku industri resah dan mulai mempertimbangkan menaikkan harga produk.
Para pelaku industri dan pengusaha pun meminta kepada pemerintah untuk mencari alternatif demi mengurangi dampak dari konflik Timur Tengah.
Agus mengatakan saat ini pihaknya sudah mencari alternatif atau substitusinya dan sudah didiskusikan dengan para pelaku usaha terkait alternatif tersebut.
"Soal plastik, saya kira wajar kalau kalau ada masalah sedikit mengenai supply, karena ada konflik di Timur Tengah, distribusi bahan baku terganggu. Tetapi ada substitusinya yang memang sudah kita bicarakan dengan dengan para pelaku usaha," kata Agus saat ditemui wartawan di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Ia pun berharap dengan adanya kabar gencatan sementara antara Iran dengan Amerika Serikat (AS), dapat kembali menormalkan pasokan bahan baku plastik.
"Kalau kita lihat, mudah-mudahan apa yang menjadi kesepakatan antara Amerika dan Iran berkaitan dengan pembukaan Selat Hormuz itu bisa kembali menormalkan ekosistem maupun logistik, agar supaya kebutuhan plastik untuk pelaku-pelaku usaha kita bisa dipenuhi," jelasnya.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mengungkapkan, kondisi pasar saat ini masih sangat dinamis dan sulit diprediksi di tengah eskalasi ketegangan di Timur Tengah.
Di tengah situasi tersebut, pelaku industri berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas pasokan bahan baku agar aktivitas produksi tidak terganggu. Salah satu perhatian utama adalah kelancaran distribusi nafta yang menjadi kebutuhan utama sektor ini.
"Kita berharap pasokan nafta lancar," kata Fajar kepada CNBC Indonesia, Senin (30/3/2026).
Selain itu, pelaku usaha juga mulai melirik alternatif bahan baku lain seperti LPG untuk menjaga keberlangsungan produksi. Namun, upaya ini dinilai perlu dukungan kebijakan agar lebih kompetitif.
Dibanding kebijakan fiskal seperti relaksasi, ketersediaan gas dinilai lebih krusial untuk menjaga efisiensi dan daya saing industri petrokimia di tengah tekanan global.
"Nol persen bea masuk LPG sebagai bahan baku alternatif. Pasokan gas," kata Fajar.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452570/original/017450600_1766406793-IMG_2730_1_.jpeg)