Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
12 March 2026 14:15
Jakarta, CNBC Indonesia- Konflik terbaru di Timur Tengah mengguncang salah satu jalur energi terpenting di dunia. Selat Hormuz mendadak berubah dari jalur perdagangan minyak paling sibuk menjadi rute yang nyaris kosong.
Kapal tanker yang membawa minyak, bahan bakar olahan, dan LNG hampir berhenti melintas setelah dimulainya operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Melansir dari The Economist, ketegangan ini memicu guncangan energi global yang langsung terasa di pasar.
Selat tersebut memang selalu menjadi rute yang menantang bagi pelaut. Jalurnya sempit, dangkal, padat lalu lintas, dan sering tertutup kabut debu. Dalam situasi konflik, kondisinya berubah jauh lebih berbahaya.
Pegunungan tandus di pesisir Iran memberi posisi strategis bagi sistem pertahanan. Iran disebut menyiapkan berbagai ancaman laut, termasuk ranjau laut, kapal serang cepat, drone, serta rudal balistik dan jelajah yang dapat menargetkan kapal di jalur pelayaran.
Foto: The Economist
ACLED; Institute for the Study of War; AEI’s CriticalThreats Project; Welligence Energy Analytics; Reuters
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi peringatan keras kepada Iran. Ia menyatakan konsekuensi militer akan sangat berat jika ranjau benar-benar dipasang di selat tersebut. Menurut klaim Pentagon, 16 kapal kecil yang diduga digunakan untuk menebar ranjau telah dihancurkan oleh pasukan Amerika. Washington juga berencana memberikan pengawalan militer untuk konvoi tanker serta membantu menekan premi asuransi pelayaran yang melonjak.
Langkah pengawalan itu mengingatkan pada operasi militer era 1980-an saat perang Iran-Irak. Amerika menjalankan operasi pengawalan tanker Kuwait agar tetap bisa melintasi kawasan Teluk. Namun situasi saat ini jauh lebih kompleks. Beberapa negara Eropa dan Pakistan mulai mempertimbangkan mengirim kapal pengawal sendiri, sementara rencana konvoi militer belum benar-benar terbentuk.
Nilai strategis jalur ini sangat besar. Lebih dari seperempat ekspor minyak laut dunia melewati Strait of Hormuz.
Berbeda dengan jalur seperti Suez Canal yang memiliki rute alternatif, kapal pengangkut energi dari Teluk praktis tidak punya pilihan lain selain melewati selat tersebut. Dampaknya terlihat jelas di laut, tanker bermuatan penuh menumpuk di sisi barat selat, sementara kapal kosong menunggu di sisi timur.
Data perusahaan intelijen pasar Vortexa menunjukkan perubahan drastis dalam arus kapal. Sebelum perang pecah pada 28 Februari, rata-rata 46 tanker melewati selat setiap hari.
Setelah konflik dimulai, jumlahnya jatuh menjadi lima kapal atau bahkan lebih sedikit per hari. Beberapa kapal tetap nekat melintas karena potensi keuntungan tinggi, walau risiko serangan meningkat.
Foto: The Ecoonomist
Tanker Melewati Selat Hormuz
Ancaman Iran di laut tidak berdiri sendiri. Kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Teheran sebelumnya sudah menekan jalur pelayaran global di sekitar Bab al-Mandab dan Laut Merah. Melansir dari The Economist, serangan drone dan rudal murah dari kelompok tersebut sempat menurunkan arus kapal di jalur yang menghubungkan Laut Merah dan Terusan Suez. Aktivitas pelayaran hingga kini belum sepenuhnya pulih.
Para analis militer melihat geografi sebagai faktor penentu dalam konflik laut seperti ini. Wilayah sempit seperti Strait of Hormuz memberi keuntungan bagi pihak yang bertahan di daratan. Kapal musuh harus mendekat ke garis pantai, sehingga lebih mudah menjadi target rudal, drone, atau kapal serang cepat.
The Economist melaporkan peneliti militer di berbagai lembaga menilai pembukaan kembali jalur tersebut tidak akan sederhana. Jika Iran benar-benar menebar ranjau, operasi pembersihan harus dilakukan setelah ancaman rudal, drone, dan kapal cepat dilumpuhkan. Kapal penyapu ranjau sendiri rentan terhadap serangan, sementara teknologi baru yang menggunakan drone laut masih jarang diuji dalam situasi perang terbuka.
Dampaknya terhadap ekonomi global langsung terasa. Jalur ini memegang peranan penting dalam aliran energi dunia. Gangguan kecil saja dapat memicu lonjakan harga minyak dan premi asuransi kapal. Jika ketegangan berlarut, pasar energi berisiko menghadapi guncangan besar karena pasokan dari Teluk Persia menjadi sulit keluar ke pasar internasional.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google

















































